Minggu, 08 Februari 2015

Sepatah Kata Ini Untuk Penegasanku

3 komentar

Sudah lama rasanya, mendengarkan candamu, melangkah bersamamu, bahkan hanya sekedar melihat semangatmu dalam menuntut ilmu. Sangat lama kenangan itu tertinggal jauh di sana, tertimpa dengan kegiatan yang mendera tiada terasa, terhempas dengan waktu yang berjalan dengan cepat, melesat.
Saat itu tanpa kusengaja melihat beranda halaman salah satu temanmu, mengunggah foto sekelompok organisasi non formal, terlihat canda tawa mereka, keakraban sangat jelas terjalin bersama, kenyamanan, keamanan, kegembiraan tidak dapat dipungkiri lagi. Ah, yang tidak terlewatkan, ada kamu.
Aku di sini bukan mengulang untuk menyesali hal-hal yang telah kulakukan saat dulu, aku di sini juga bukan untuk menyesali segala perkataan entah itu kasar, tercela, menjijikkan, memuakkan, menyebalkan. Aku di sini tersenyum, tersenyum sedang meniti jalan menuju-Nya, melangkah untuk menjauh hanya untuk sementara.
Aku tersenyum masih ada lintasan tawa itu, sejenak aku merasa aku adalah orang yang sangat sangat memuakkan, memutuskan tali silaturahmi itu, menjejallkan perasaan-perasaan aneh itu kemudian menutup rapat dan kusimpan dalam aliran darahku, hingga mampat, kukunci, dan tak bisa bergerak. Apakah aku seburuk itu? Sudah berapa kali kelenjar air mata ini bekerja untuk hal ini? Tidak terhitung lagi, Allah. Aku tidak tahu lagi bagaimana aku harus berusaha menjauhi hal ini untuk mendapatkan ridho-Mu. Aku gak tahu karena aku hanya berusaha dan terus berusaha mengenyahkannya.
Ya, iya tersenyum, seperti biasanya. Terima kasih, Allah. Setidaknya aku tidak menyakitinya saat dia menampakkannya. Menjalani aktivitas dengan orang lain, memiliki sekelompok-sekelompok orang yang luar biasa, menikmati hidupnya. Aku lega.
Naif rasanya mengatakan bahwa ini cerpen, hampir kubuat narasi ini, namun aku tahu, it will sound silly.
Entah berapa kali perkataan itu, karena entah mengapa kuyakini cepat atau lambat dia akan membaca ini.
*Ngode*, Well gak kok. Hanya terkadang aku hanya berfikir, jika kita bisa memperjuangkan mengapa kita perlu melepaskannya? Ataukah mungkin ketika kita tersakiti dengan satu hal apakah untuk selamanya kita harus menjauh dari hal itu? *Mulai ngaco*
Ada beberapa patah kata yang ingin kusampaikan, sedikit saja..

"Izinkan aku untuk menjalani ini, yang sedang melangkah untuk menuju Ridho-Nya, menikmati hari-hari dengan dikelilingi orang-orang luar biasa yang tiada luput mengingat Allah, berusaha yang terbaik pun karena Allah. Izinkan kita untuk menjauh sejauh-jauhnya, menetralisir kesalahan-kesalahan itu hingga terbuang menjadi buih-buih di lautan, biar ia terhempas jauh ke suatu pulau tak terjamah, hingga ketika waktu itu tiba, biar Allah yang mengaturnya. Karena usaha kita hanya untuk memantaskan diri, mengupgrade pada level tertinggi pada jalan-Nya. Semoga.. Ya,semoga saja. Semoga, aku istiqomah di jalan-Nya"

My activities

style='overflow:auto; height:200px'>