Minggu, 22 November 2015

Aku Tidak Mampu :(

1 komentar
*sigh* Dari judul post ini saja sudah menunjukkan pesimis.
Bukankah seharusnya aku tetap optimis, bagaimanapun itu caranya selama masih dalam koridor-Nya
Aku tak tahu. Aku tak tahu harus berbuat apa.

Waktuku telah berkurang empat tahun di sini, ditempa dengan ilmu statistik, agama, organisasi, budaya, pergaulan. Lalu benarkah aku benar-benar menyerap hal itu?
Dikala optimis itu masih terpatri saat itu, semangat masih terngiang-ngiang, meletakkan tujuan utama pada balok empat ini, namun, apa yang sudah kukerjakan? Hei! Apa yang sudah kamu dapat selama ini? Wake up, Mir!

Ya Allah, hal ini belum selesai, ada hal satu lagi yang selama ini mengusikku.
Aku tidak mampu untuk mengingatkan mereka, bahkan sekedar untuk membuat mereka berdua nyaman denganku.
Aku ingin, ingin sekali, kalian sesuai dengan prinsip kalian.
Aku tahu, aku pernah merasakan seperti yang kalian rasakan.
Mendapatkan supportnya itu luar biasa semangatnya, selalu diingatkan, sebagai orang pertama yang hadir di saat gundah, berbagi kebahagiaan, keceriaan, kesedihan.
Tapi tidakkah kita memahami, aku tahu pasti kalian juga tahu tentang hal itu...
Tidak bisakah kita menunggu barang sejenak satu atau dua tahun ke depan sepertiku yang menunggu seseorang itu?
Tidak bisakah kita bersabar sejenak dan bersandar pada sahabat sejenis kelamin kita dan hanya mengadu pada-Nya?
Tidak bisakah kita memahami lebih dalam lagi kita akan mengalami hal ini kelak, kelak ketika sudah halal?

Di malam yang telah sunyi ini, tanpa terasa tanganku membuka salah satu coretanmu, adikku, dan seringkali aku memutar otak berkali-kali, bagaimana caranya untuk membuat kalian nyaman padaku.
dua orang yang sudah kuanggap keluargaku di suatu tempat di sekolah ini, bagaimana cara terbaikku untuk mengingatkan mereka untuk menunggu sebentar lagi?

aku tidak tahu dan aku hanya bisa mendoakan mereka.

Orang macam apa aku ini >,<

Maafkan aku adikku dan temanku.
Maaf...
Aku tidak mampu untuk mengingatkan kalian

Minggu, 08 Februari 2015

Sepatah Kata Ini Untuk Penegasanku

3 komentar

Sudah lama rasanya, mendengarkan candamu, melangkah bersamamu, bahkan hanya sekedar melihat semangatmu dalam menuntut ilmu. Sangat lama kenangan itu tertinggal jauh di sana, tertimpa dengan kegiatan yang mendera tiada terasa, terhempas dengan waktu yang berjalan dengan cepat, melesat.
Saat itu tanpa kusengaja melihat beranda halaman salah satu temanmu, mengunggah foto sekelompok organisasi non formal, terlihat canda tawa mereka, keakraban sangat jelas terjalin bersama, kenyamanan, keamanan, kegembiraan tidak dapat dipungkiri lagi. Ah, yang tidak terlewatkan, ada kamu.
Aku di sini bukan mengulang untuk menyesali hal-hal yang telah kulakukan saat dulu, aku di sini juga bukan untuk menyesali segala perkataan entah itu kasar, tercela, menjijikkan, memuakkan, menyebalkan. Aku di sini tersenyum, tersenyum sedang meniti jalan menuju-Nya, melangkah untuk menjauh hanya untuk sementara.
Aku tersenyum masih ada lintasan tawa itu, sejenak aku merasa aku adalah orang yang sangat sangat memuakkan, memutuskan tali silaturahmi itu, menjejallkan perasaan-perasaan aneh itu kemudian menutup rapat dan kusimpan dalam aliran darahku, hingga mampat, kukunci, dan tak bisa bergerak. Apakah aku seburuk itu? Sudah berapa kali kelenjar air mata ini bekerja untuk hal ini? Tidak terhitung lagi, Allah. Aku tidak tahu lagi bagaimana aku harus berusaha menjauhi hal ini untuk mendapatkan ridho-Mu. Aku gak tahu karena aku hanya berusaha dan terus berusaha mengenyahkannya.
Ya, iya tersenyum, seperti biasanya. Terima kasih, Allah. Setidaknya aku tidak menyakitinya saat dia menampakkannya. Menjalani aktivitas dengan orang lain, memiliki sekelompok-sekelompok orang yang luar biasa, menikmati hidupnya. Aku lega.
Naif rasanya mengatakan bahwa ini cerpen, hampir kubuat narasi ini, namun aku tahu, it will sound silly.
Entah berapa kali perkataan itu, karena entah mengapa kuyakini cepat atau lambat dia akan membaca ini.
*Ngode*, Well gak kok. Hanya terkadang aku hanya berfikir, jika kita bisa memperjuangkan mengapa kita perlu melepaskannya? Ataukah mungkin ketika kita tersakiti dengan satu hal apakah untuk selamanya kita harus menjauh dari hal itu? *Mulai ngaco*
Ada beberapa patah kata yang ingin kusampaikan, sedikit saja..

"Izinkan aku untuk menjalani ini, yang sedang melangkah untuk menuju Ridho-Nya, menikmati hari-hari dengan dikelilingi orang-orang luar biasa yang tiada luput mengingat Allah, berusaha yang terbaik pun karena Allah. Izinkan kita untuk menjauh sejauh-jauhnya, menetralisir kesalahan-kesalahan itu hingga terbuang menjadi buih-buih di lautan, biar ia terhempas jauh ke suatu pulau tak terjamah, hingga ketika waktu itu tiba, biar Allah yang mengaturnya. Karena usaha kita hanya untuk memantaskan diri, mengupgrade pada level tertinggi pada jalan-Nya. Semoga.. Ya,semoga saja. Semoga, aku istiqomah di jalan-Nya"

Selasa, 06 Januari 2015

Analisis Masalahmu dengan PRANCIS

1 komentar
bismillah...
Semoga ini bermanfaat...
Gak, ini bukan tentang curhat lagi kok. Ini masalah bukan gak ngerti lagi.
Ok salah, ini bukan masalah. Melainkan sharing ...
Ada salah satu mata kuliah menarik di semester ini? coba tebak..
Survei contoh? Database? Pemrograman web?  Sayangnya itu biasa saja, gak ada feel yang masuk. Hanya saja beliau yang mengajar luar biasa baik sekali dalam menghadapi kami. Cuman...
Ada yang lebih menarik

*jreng jreng*
PRANCIS/APSI
Analisis Perancangan Sistem Informasi.
Dari singkatannya aja udah keren. Apalagi materinya.
Sebenarnya bukan karena materinya. Kurang lebih materi yang disajikan hampir sama dengan database, karena banyak sekali, hampir sama kayak Teknologi web, karena berslide bahasa inggris. Hampir sama kayak survei contoh karena mengenai teori, teori, teori. Iya, itu juga ada prakteknya sih.
Cuman entah kenapa. Percaya gak sih.
"Ketika kita sudah memasukkan hati kita pada suatu hal. Maka semua akan terasa mudah"
Sepertinya begitulah.
Pernah azizah, sahabatku berkata,"Cieee.. Sibuk" *sebenarnya menyibukkan diri pada hal yang lebih bermanfaa sih*, lalu aku hampir aja ngeluh, dia berkata,"Yang penting dibuat enjoy aja, pasti mudah".
Nah, lho.. gak nyambung, kan...
Dibuat nyambung ajalah...
Jadi gini. Semenjak awal pertama bertemu dosen tersebut, feel untuk mendengarkan beliau mengajar terasa banget, menjelaskan rinci demi rinci materi yang ada, diselipkan dengan kondisi luar yang masih fresh, diberi contoh yang nyata, masuk akal, menceritakan hal-hal yang bermanfaat dan menambah bayangan di masa depan. Nah, dari situlah, aku belajar menyukai mata kuliah ini, lalu menikmati setiap detik yang beliau ajarkan, *meskipun kadang gak nyambung sih*, Khusus di mata kuliah ini, kantuk jarang datang, meskipun menguap pun pernah.

*Nah lho, curhat aja kan dari tadi?
Biar gak terkesan curhat. Mungkin akan kushare sedikit apa yang kudapat tadi siang.
Jadi gini nih bro. Sebelum melakukan skripsi *ibunya bilang gitu seingatku*, perlu beberapa hal yang dirancang dalam membuat sistem informasi.
Yakni Proses Modelling.
Nah, *sebentar, berasa kuliah ya. gimana caranya lebih atraktif nih*
Intinya sih, gini. Sebelum mebangun sesuatu, kita harus menganalisis masalah tersebut kan? lalu mencari solusi, right?
Nah, gimana caranya supaya lebih mudah.
Kita Fact Finding dulu yaaa....
Yang pertama. Buat WORKFLOW.
Nah, ini buat? Buat ngertiin alur kerja nya itu bagaiman, dari tahapan tahapan tersebut akan dilihat efisienkah tahapan tersebut?Apakah bisa dipermudah tahapan tersebut dengan membuat sistem yang akan meminimalisir tahapan yang ada?

*gambar menyusul, rencanaya sih mau masukin tugas nanti mengenai SIM*

Nah, kalo udah, buat BISNIS PROSES. Itu hampir sama kayak workflow sih, cuman itu mau membuat aliran proses beserta stakeholder yang terlibat. Dari bisnis proses akan jeas, prosesnya ngapain aja, inputnya apa, outputnya apa.

Nah, kalo udah, bikin DFD atau Usecase. Apasih itu.
Data Flow Diagram atau usecase.
Kayaknya bakal lebih enak ada penjelasan dari gambar ya..
Gini nih...



Nah, setelah itu kita nyari permasalahannya apa aja.
Kalo orang Sistem Informasi biasa menggunakan Fish Bone/ Isikawa diagram.
Nah, di tempat itula, kita akan memahami dari permasalahan yang utama hingga merujuk ke permasalahan yang kecil-kecil banget.
Hal ini gak hanya untuk Sistem Informasi lho yang berhubungan dengan IT.
Semua permasalahan ketika kamu merasa hidupmu rumit, bingung, galau, tak tentu arah, lupa membaca al-Quran *nah lho*, berarti kamu harus mencari tahu kenapa hal itu terjadi kan? Nah, bisa kamu gunakan diagram ini sehingga lebih sistematis dan kelihatan ujungnya.

Nah, udah tahu semua permasalahan kan, maka dibuatlah problem statement.


Setelah di analisis. Maka kita berada di Solusi dari permasalahan.
Yakni kita membuat workflow dulu,
*Sama, mir?*
Beda!!!
Workflow di sini sudah menggunakan sistem informasi, lho. Sehingga segala alur akan lebih mudah dan lebih cepat dalam pelaksanaanya.
Bisnis proses pun demikian, usecase pun juga.
Nah, setelah itu ada candidate system Matriks. Yakni berisi candidate solusi solusi yang dapat kita kerjakan
Dan aakan diketemukan candidate solution yang lebih mudah dan bisa kita kerjakan
Kemudian tiba pada perancangan input output

Banyak kan? Gak kok. InsyaAllah akan lebih mudah dalam menjalan hidup.
Sebenarnya guys, gini. Sistem itu untuk apa sih? Untuk mempermudah manusia dalam bekerja, betul?
Jadi, untuk menghasilkan hal yang efektif dan efisien akan lebih enak menggunakan sistem. Sistem yang bagaimana dulu? Yang terpenting, sehebat apapun kita, secanggil apapun teknologi. Ada hal yang gak akan tergantikan. RASA. EMOSI. Hal-hal psikologis tersebut hanya akan kita dapatkan ketika menggunakan manual. Bertemu langsung untuk memahami karakteristik lawan bicara, menghasilkan hasil yang terbagus karena memberikan hati kita pada suatu pekerjaan.
Apakah sistem merasakan hal itu?
Sekali lagi balik pada  kodrat manusia, makhluk sosial.
Semoga kita tidak terlalu terlena dengan teknologi yang semakin maju ini. Amiin

Jumat, 02 Januari 2015

Peraturan Maskapai Penerbangan?

1 komentar
Home sweet home. Telah tiba di rumah kedua, dengan disambut malam gemintang yang sunyi, di atas "masih" padatnya jalanan kota Jakarta.
Aku tersenyum sendiri menikmati suasana yang ada. Bertemu teman-teman yang siap mengajak untuk mengarungi kehidupan, bertemu dengan jalanan yang setiap saat menyemangatiku, bertemu ia, *nah lho, siapa, ketahuan kan?* #gak usah negatif gitulah# *terus siapa?* Ok, gak penting. Percakaapan dua orang yang gak jelas.

By the way, gak ada yang kusesali telah sampai di Jakarta dengan selamat *yaiyalah, kan selamat*. Bukan, bukan karena itu, karena biasanya ketika balik kesini, bayangan kedua orang tua dan keluarga masih bergelayut di pikiran, rasa berat untuk meninggalkan rumah menahan langkah kakiku. *splash, alay*.
Intinya, aku seneng, seneeeeeng banget dengan liburan kali ini. Cukup puas.

Materi utama pada postingan ini bukan tentang liburan, hayooo, penasaran liburanku yaa? *GR*. 
Semoga gak ngomongin orang di sini ya..
Aku sedang kesal dengan salah seseorang. Semoga gak kusebutkan namanya di sini *emang tahu namanya?*
Ada yang belum tahu mengenai musibah yang dialami Indonesia akhir-akhir ini? bukan.. bukan yang itu.. yang hot news sekali itu lho.. Bukan!!! itu sudah lama dihiraukan orang Indonesia. Yang ini lho..
Keywordnya Air Asia.

Semenjak peristiwa itu, hipoetesisku menyatakan orang akan lebih hati-hati dalam bepergian dengan menggunakan pesawat. Entah mereka akan menghindarinya, memilih kendaraan alternatif lain, atau  mungkin menaati peraturan yang senantiasa dibuat oleh maskapai penerbangan.
Iya, peraturan.
Tiba-tiba merasa jengkel dengan perkataan orang bahwa peraturan itu dibuat untuk dilanggar. *gak jelas nih mulai, terangin, mir biar jelas*.
Ok, tepatnya tadi malam dengan menggunakan salah satu maskapai penerbangan dengan warna khas hijau, dengan seat 3-3, dari Surabaya menuju Jakarta. Sendirian. Dengan membawa koper dan dua tas berbeda ukuran.
Aku duduk sambil menyunggingkan senyum karena hari sibukku akan datang *read : kuliah*, dua seat disebelahku masih kosong. Namun seat di berlawanan arah telah penuh dengan rombongan satu keluarga. Kubaca tabloid maskapai tersebut untuk menghindari kantuk yang menjalar. Sambil membuka buku kecil yang senantiasa kubawa dan jarang kubaca *ups*. Beberapa menit kemudian sebelum pesawat berangkat, seseorang tiba dan duduk di dekat jendela. Beberapa detik kemudian, seseorang lagi tiba. Kupersilakan untuk mengambil tempat duduk. Perawakannya tinggi, terlihat gugup, bingung. Sambil membawa kotak permen dan HP.
Sebelum pesawat berangkat, dia bermain alat elektroniknya,  seorang petugas berkata,"tolong HPnya dinonaktfikan". Dia hanya menghitamkan layar, ketika berlalu, dia menyalakan lagi".
Aku geram, sembari berfikir,"Jika ada frekuensi yang datangnya sama dengan mesin, maka bisa jadi mematikan turbin mesin pesawat".
Aku panik, berteriak, kesal *oke, alay mode on. Gak sampai segitunya. Cuman gerakkan kaki aja*
"Mas, tolong dimatikan HPnya".
"Sudah", katanya padaku dengan menunjukkan HP yang dibawa.
Aku terdiam, meskipun masih curiga, difikiran masih terngiang ngiang mesin turbin mati, lalu tubuhku melayang, hilang, rasa senang pun sirna.
Aku beristighfar berkali-kali. Aku harus positif thinking, semoga apa yang dikatakannya benar.
Kemudian dia menyalakan salah satu elektroniknya lagi. Mengambil headtset, memasang di telinganya, dan menyalakan musiknya.
Aku tercengang. Pesawat baru aja take off. Roda masih nempel di tanah, woy!
Aku geram, beristighfar berkali kali. Lalu takut-takut. Jika hal yang ada di fikiran ini terjadi, aku hanya bisa menyesal. Bisa jadi aku termasuk orang yang membunuh penumpang karena membiarkan keburukan yang tengah terjadi. Paling tidak aku harus memperingatkan dia. Entah bagaimana itu hasilnya *cie, berdakwah cuy di tengah pesawat*
"Mas, tolong dimatikan sebentar saja".
"Ini bukan HP, ini lho gadget".
Aku ber-ooh ria. Speechless. Kembali pada posisiku.
Oh, meeeen! Astaghfirullahaladhim. Ini orang pinter banget apa ya?
Ini bukan HP, tapi gadget? Bahasa gaul ada artinya bukan sih?
HP itu salah satunya adalah gadget!
Orang melek IT tapi gak pernah baca berita elektronik kah?
*Nih kan, ngomongin orang*


 Tiba tiba perasaan itu bergelayut dengan bacaan bahwa ada pesawat jatuh lantaran ada yang tidak mematikan barang elektroniknya yang bukan HP. iya, BUKAN HP!
Aku sudah speechless, berusaha menenangkan hati dengan istighfar, murajaah hafalan.

Belum selesai keherananku. Ketika peawat telah landing. Aku bergumam kembali. Pesawat belum benar benar berhenti, dia menyalakan HPnya, beberapa orang pun juga. Bukankah peraturan itu sudah jelas-jelas terdengar,"Tolong menyalakan barang elektronik di luar pesawat". Apa aku yang terlalu polos menaati peraturan itu?
Jelas peraturan itu dibuat untuk kita, karena kita, dari kita. Kenapa sih gak dituruti aja? Jarak waktu nyalain HP di pesawat dan di ruang pesawat hanya hitungan menit, coy! Sabar dikit bisa gak sih?!

Gini rupa orang Indonesia?
Gini mau gak ada kecelakaan?
Gini mau disiplin?
Gini mau masuk surga?

Bukannya sok suci. Cuman aku lebih baik jadi orang polos aja.
Aku gak ngerti. bener bener gak ngerti. Serius gak ngerti. Ada apa dengan hal ini?


Kamis, 01 Januari 2015

Gak Istimewa Hanya Pada Tahun Baru

1 komentar



Bismillahhirrahmanirrahim :)
Mungkin blogger lain akan mengatakan,"Selamat tahun baru","Happy new year".
Atau, entah apa itu.
Tapi aku gak, gak ada yang istimewa pada hanya malam tahun baru itu, tidak ada yang istimewa pada hanya tanggal 1 itu. Bagiku, setiap waktu liburan ini terasa istimewa ketika bersama keluarga.

Menikmati sisa waktu yang ada dan menyempatkan diri untuk bersama dengan mereka.
*NtahKenapaSpeechlessSekarang*

Liburan yang dipaksain ini (lantaran setelah UTS yang biasanya ketika sekolah, akan libur beberapa hari. Jika di kampus ini tidak ada liburan, lantas dengan upaya yang hebat, teman-teman berhasil melobby dosen-dosen kami untuk memaksa libur) kumanfaatkan sebaik-baiknya untuk bersama mereka.
Membagi waktu sebisa mungkin (meskipun juga masih sering terpotong dengan tidur yang keblabasa *eh*, ngelamun gak jelas *eh*).
Gak jelas kan postingan malam ini?
Lain kali, semoga bisa kubagi betapa istimewanya hari-hari dengan mereka. Berbagi cerita, tersenyum bersama, menikmati keluh kesah, sedih.
Semoga.
Semoga...

My activities

style='overflow:auto; height:200px'>