Selasa, 14 Mei 2013

Itu Eropanya Namun Ini Eropaku (part II)

0 komentar
Yey, ceritanya dilanjutkan..
Darimana kita? ah ya.
Ternyata masalah kita dimulai saat itu, yakni ketika kita tidak menemukan elf yang kosong untuk membawa kita kembali ke  daerah dago. Menunggu beberapa menit, lewat sih lewat elf itu, namun penuh dengan orang yang dipaksa untuk berdesak-desakkan. Dengan harapan kosong dan penundaan yang sempurna, kita harus segera pulang karena ada beberapa hal, dan akhirnya kiita terpaksa berjalan kaki menaiki bukit.

Ah ya, perlu diketahui, dari daerah lembang itu jalanan menaik menuju gunung, tepatnya gunung tangkuban perahu, setelah itu menurun menuju Ciater. Ini bukan masalah 3-5 km perjalanan itu, tapi masalahnya perjalanan itu melebihi darinya, yaitu 15 km-an. Bayangkan betapa panjangnya jalan yang akan kita tempuh nantinya, tapi kita nekat.
Dalam perjalanan itu aku banyak mengoceh dan merenung. Merasakan bagaimana beberapa orang yang aku temui berjalan sendirian di jalanan dengan dikelilingi hutan belantara, dengan mobil-mobil berkecepatan tinggi, tanpa adanya jalan untuk pejalan kaki. Yah, itu aku rasakan saat itu. Ditambah lagi jalan yang berkelok-kelok, pastinya membuat peluang tertabrak sangat tinggi dan terabaikan.

Kenyataan itu tidak hanya bercukup di sana, hujan dengan senang hati mengguyur kami. Saat itu gak ada tempat berlindung dari hujan, tidak ada rumah, ataupun warung-warung di pinggir tebing. Kita berjalan dengan cepat walaupun tanjakan cukup cepat, beberapa kali ia menyemangati,"Ayo, lari!! ayo!! nanti basah!!! cepetan!! ayo!!". Sesekali mendorong tubuhku agar bisa berlari. Namun aku gak bisa, lutut ini sudah terasa lemas untuk berlari, hanya cukup bisa berjalan di tanjakan itu, aku bukan merupakan anggota bela diri seperti dia, dan rekor berlariku di bawah rata-rata. Dengan pemaksaan pada tubuh-tubuhku, aku mencoba berlari lebih cepat, tak memedulikan lagi beberapa sisi pakaianku yang telah basah dari hujan yang tak kunjung reda, aku ingin menangis.

Masih dengan hujan yang setia, kita menemukan warung-warung yang berjejer di jalanan, aku usahakan berjalan lebih cepat lagi, aku harus nyampek, ya, aku harus segera mengatur nafasku di sana.
Sesampai di sana, gile, aku diejek ,"Kok gak bisa berlari se". Aku gak tahu harus bagaimana lagi, aku kecapekan, aku mengatur nafasku yang ngos-ngosan ini. Menutup mata, membiarkan ia memesankan makanan untuk kita karena sejak tadi pagi belum makan makanan pokok.

eh ternyata dia hanya memesankan sate ayam dengan nasi satu porsi. Hanya itu! Padahal dia gak makan dan membawa barangku yang aku bawa ke bandung semua. Aku sedikit gak peduli, aku harus makan meskipun sate itu agak amis dan nasi itu  bukan kualitas baik, aku gak memedulikan iya terdiam berharap elf segera datang. Aku menawarkan sateku padanya, namun dia tidak mau. Alhasil, dengan ibanya aku memberikan sebagian sisa makananku untuknya. Dia juga harus bisa berjalan beberapa km lagi.
Setelah itu, you-know-what? Harganya sebesar Rp25.000,- Padahal hanya satu porsi, ibaratkan aja satenya Rp20.000,- jadi satu sate seharga Rp2000,- Hei, hanya sate ayam!!!
Eh ya, sebelum kita selesai makan, tiba-tiba saja sekelebat datang Bus STISnya BPS! Dari arah Subang menuju Bandung. Gak bisa disangka apa yang mereka lakukan kesana!

Dengan harapan yang payah kita berjalan lagi. Untungnya hujan telah reda, aku bersemangat lagi, mengoceh atau apapun untuk mengusir rasa penat ini. Setidaknya kita harus sampai ke tangkuban perahu, Mungkin di situ kita akan mendapatkan kendaraan apapun yang bisa membantu kita ke Lembang.

Beberapa menit kita jalan, melihat hamparan teh yang senantiasa hijau, menikmati bau hujan dan hawa sejuk yang menyenangkan (kebohongan), datang elf dengan kernet sopir menunjukkan tangan dengan angka satu. Dia pun mengiyakan, dan berkata,"Kalau cuma ada satu, pyn saja yang masuk".
Aku gak tahu harus bagaimana dan gak percaya dengan kata-katanya, ketika kita sudah mendekat, kernet itu mengatakan cukup untuk dua orang. Alhamdulillah, ya Rabb. Doaku terjawab sudah, beberapa menit yang lalu aku melafalkan Shalawat Nabi, berharap pertolongan itu datang.

Ternyata gak seenak yang kita bayangkan, kita harus berjejel-jejelan di tempat itu, pantatku hanya 1/5nya menduduki jok mobil. Ah, setidaknya kita mendapat tumpangan, kita gak akan berjalan 15 km lagi, ini lebih baik dari yang kita kira.

Singkat cerita, aku gak jadi balik ke ibukota karena aku tidak ingin, beberapa alasan diantaranya adalah karena badanku basah kuyup dan sudah sangat lelah. Akhirnya aku menginap di puspa kencana dengan harga yang cukup mahal. Di tempat itu bukan merupakan hotel aku kira, hotel lama yang menawarkan kealamian. Bagaimana tidak, adanya cacing-cacing di kamar mandi, semut-semut berjajar rapi di atas dinding, remahan tanah di ujung dinding, dan lampu yang redup, pastinya aku tidak akan mau tidur di tempat ini jika tidak terpaksa.

Well, singkat cerita lagi (berhubung sudah adzan), aku pulang ke ibukota pada siang hari. Menyisakan banyak cerita yang benar-benar aneh.

Aku tahu, mungkin perjalananku ini banyak kesalahan, aku tahu, ya Rabb, lindungi kami dari Syetan yang selalu membisiki kami pada keburukan. Lindungi kami dari banyaknya musibah. Lindungi saya untuk tetap mencintai Eropaku di Indonesia. Bandung. Seperti Hanum mencintai Eropanya yang asli.

Selamat tahun baru untukku





NB : Seandainya ada fotonya bahwa betapa anehnya perjalanan itu, namun apa daya, gak bisa :D

Itu Eropanya Namun Ini Eropaku

2 komentar

Pernah baca 99 cahaya di langit Eropa? Kalo iya, pasti berdecak kagum dengan suasana di sana dan ingin membaca buku ini!
Yaaaaay.....

Sebut saja judulnya Berjalan di Atas Cahaya.

Berhubung kemarin adalah liburan yang cukup panjang menurut mahasiswa STIS, dan tidak kugunakan dengan pulang kampung, maka aku siasati untuk memanjakan diri sekaligus sebagai syukuran ulang tahun dengan rekreasi dan membeli novel :3

Hanum Salsabiela Rais, begitulah nama penulis ini, menceritakan ceritanya dengan simpel, sekali lagi. Menyukai kata-kata nya dan merasakan apa yang dilakukannya di daratan Eropa sana. Sehingga aku ingin berjalan di atasnya, seakan-akan nostalgia pada bangunan-bangunan muslim serta budaya muslim sebagai minoritas di sana. Ya, aku ingin merasakannya.

Anak dari Amien Rais ini menceritakan perjalanannya di Eropa serta kehidupan yang dijalankannya ketika di Eropa bersama Suaminya, Rangga.

Ah, di akhir cerita yang berjudul Epilog yang telah aku selesaikan tepat ketika perjalanan pulang dari rekreasi, membuatku untuk bercerita traveling yang telah aku nikmati 3 hari silam.

Sebenarnya sudah beberapa kali aku menginjakkan kakiku di tempat ini, menikmati hawa sejuknya, keramahan penghuninya, suara khas orang aslinya, kebun tehnya, hujannya, dan kemegahan bangunannya. Dan aku tetap menyukainya. Selalu menikmati setiap langkah dalam beberapa hari itu. Meskipun terkadang ada saja musibah yang datang, sulit untuk dilupakan.

Hari jumat kemarin aku meluncur ke Bandung ditemani oleh sebuah novelnya Hanum, beberapa baju, dan kelengkapan lainnya. Malas makan pada pagi itu membuatku mengunyah terpaksa roti sobek kemarin dan meneguk segera ultra milk coklat kesukaanku. Merasakan hawa panas yang langsung merajalela di setiap celah ibukota, aku tetap bersemangat berjalan menuju Stasiun Jakarta Kota. Kutinggalkan sejenak tempat kumuh yang menyesakkan, panas yang menggeliat, gedung-gedung yang berlomba-lomba mencakar langit, juga mobil-mobil yang dengan rakusnya menguasai jalanan ibukota.

Dengan segera kuberangkat dengan kereta serayu pagi menuju Kota kembang itu. Bandung, aku akan menemuimu lagi. Bersiaplah, jangan turunkan hujanmu lagi seperti kala itu.

Sampai di sana, aku menuju Dago Inn, ini adalah penginapan yang cukup dengan kenyamanan yang standart, ditambah pula ini adalah penginapan khusus cewek. Hanya perlu Rp60.000,- terbayar sudah bagaimana kamu ingin tidur malam itu.

Kusesuaikan diriku dengan sejuk yang merasuk ini, serta hujan yang sejenak membasahi tempat ini. Aku tiduran di kasur empuknya Dago Inn dengan ditemani novel yang sengaja kubawa itu.

 Pernah mendatangi Ciwalk di Bandung? Jelas iya, rugi jika tidak menikmati suasana mall yang berkolaborasi dengan alam. Menikmati berjalan di sekitarnya dengan suasana malam yang menyenangkan, meskipun  kesana hanya dengan satu tujuan, yakni menonton Iron Man 3.

Setelah acara menonton selesai, Ciwalk telah sepi, mau tidak mau aku harus pulang ke penginapan, menghabiskan waktuku dengan tidur di kasur yang empuk.

Esok paginya, aku menikmati steak yang ada di sana, oh tidak, kesalahan, level pedas yang aku ambil terlalu pedas, maka aku harus menikmati ini dengan nasi sebagai penetralku. Namun, tidak terlalu mahal kok. Hanya memerlukan belasan rupiah, langsung bisa kaudapatkan itu di tempat itu (Aku lupa namanya :D)
Malamnya aku menikmati lalapan sambal dengan tahu tempe yang spesial, ini berbeda dengan tahu tempe dimanapun. Menurutku :)

Car Free Day!!
Setiap minggu dikawasan dago selalu diadakan acara ini, seakan-akan pejalan kaki adalah raja di tempat ini, dan mobil adalah makhluk terlarang di kawasan ini. Berjalan di sana dengan kostum yang sebenarnya tidak sesuai tetap menyenangkan. Jarang aku bisa berjalan dengan leluasa ini di Ibukota.

Sebenarnya tujuanku minggu ini bukan ini, namun menuju tempat yang lebih dingin dari Dago, melihat hamparan kebun teh yang menghijau, puluhan gunung yang menghijau dengan gumpalan awan menyelimuti puncaknya. Ah, menyenangkan.

Aku menyukai tempat tenang seperti itu, pikiranku tenang.

Tapi rencana itu tidak sepenuhnya matang. Maribaya, tangkuban perahu, atau boscha? Bukan keputusan yang tidak salah namun juga tidak benar, kita meluncur menuju ciater karena ide dari beberapa orang di jalanan.

Kami menumpangi elf menuju Subang. Aku pernah kenal daerah itu, Masa lalu seseorang ketika aku beranjak SMA, tapi kita tidak menuju Subang, Gak sampek kok, cuman sampek ciater aja.

Sesampai di sana, kami bingung, Itu merupakan pemandian air panas, tapi kita tidak membawa baju ganti jika mandi air panas, tujuanku hanya ingin merasakan hawa sejuk yang enak ini, ya sudahlah, akhirnya kita masuk tempat ini seharga Rp19.000,-  eh? nanggung kan? Kenapa gak dibulatkan aja itu harga. Entahlah.

Eh ternyata, how lucky we are! di sana gak hanya kolam air panas, namun juga ada air panas di beberapa tempat dimana tidak seluruh tubuh kita terbasahi. Akhirnya aku merasakan air panas itu, enak sekali, pokoknya enak.

Setelah itu kita jalan-jalan, melihat sepedai air, bangunan rumah hantu, membeli pizza mini, dan sebagainya. Ini adalah tempat yang cocok untuk keluarga. dengan suara aliran air panas serta hawa sejuk yang menyenangkan.

bersambung

My activities

style='overflow:auto; height:200px'>