Jumat, 08 April 2011

Ulat Bulu

0 komentar

Ah, kembali lagi, tiba-tiba ingin nulis di blog. Tapi nggak tahu mau nulis apa.

Yang aku tahu, aku kembali normal sekarang (memangnya dulu nggak normal?! Entahlah).

Yang aku tahu juga, kalau boleh jujur, aku bosan. Berangkat pagi (sekarang aku rajin berangkat jam setengah tujuh lhoh! Kadan pernah kurang dari jam itu, jam 6 juga pernah, setengah 6 juga. Padahal nggak ada apa apa). Nah, alasannya apa? Tumpangan gratis, naik mobil. :D

Lanjutan => kemudian pulang sore. Padahal juga jarang bimbel, tapi ada-ada aja yang membuat pulang sore. Kadang karena malas (berjalan 500m, panas-panas+bawaan berat), kelompokan, nggak jelas, dan pastinya bimbel, atau malah pernah gini, katanya ada bimbel (kata teman-teman sih), eh, ternyata nggak ada -,- kayak hari kamis tanggal 7 April 2011!

Semua orang pasti sering update kabar, entah itu dari surat kabar, televisi, atau internet sendiri. Nah, akhir-akhir ini ulat-bulu-yang-membuat-gatal-tubuh sedang rajin rajinnya membunuh keceriaan penduduk. Guess what? Di belakang rumahku yang rindang ini ternyata terdapat pohon mangga, yang akhir-akhir ini jarang berbuah, ditempati oleh berbagai ulat bulu!

Alhasil (berdoa sekarang nggak ada lagi), tubuh sekeluarga gatal semua. Pokoknya semua tubuh deh yang ada kulitnya. Dan ketika kita selesai mandi, gatal itu semakin menggatali kami. Minyak kayu putih habis banyak, caladine sudah kami tabur, Alhamdulillah, lumayan, nggak segatal sebelumnya meskipun hanya 10%.

(Dulu sebenarnya mau masukin artikel di bawah ini. Tapi ketika tiba di warnet, gatal itu tidak menjalar lagi, nggak seru).

Dear ulat berbulu yang bijaksana

How do you do? Aku pernah melihatmu tersenyum kepadaku, dan kuuluk salam. Tetapi kita belum pernah berkenalan langsung, bercanda. Terima kasih karena kamu telah menjadi tamu terbaikku di rumah nan rindang ini.

Ulat berbulu yang bijaksana

Aku memakai kata ini ketika ingat dengan hal-hal bijak. Dan anda telah sangat bijak sudi memberikan rasa gatal yang kamu miliki kepada kami. Sebagai oleh-oleh tentunya.

Ah, hadiah yang kauberikan ini tidak pernah dapat aku lupakan. Setiap aku selesai mandi, hadiahmu menari nari di seluruh tubuhku. Melumatku. Menyatu dengan kulitku. Dan muncullah sisik sisik karena tanganku yang berpuluh kali menggaruknya. Tidak akan pernah aku lupakan.

Hingga sekarang aku sedang dibalut dengan hadiah terbesarmu, Sudah berapa kali perih yang kurasakan akibat tanganku sendiri. Sudah berliter minyak kayu putih untuk menawarkan hadiahmu itu. Aku masih tidak bisa melupakannya. Sangat tidak bisa.

Ulat bulu yang bijaksana

Kalimat-kalimatku di atas bukanlah kalimat penghinaan untukmu. Aku tidak bermaksud untuk membencimu, lalu mendewikan (aku lebih suka dewi daripada dewa) hasil metamorfosismu kelak. Sungguh, dahulu ada sebersit senang kepadamu (ah, seperti yang kukatakan di atas, bahwa kuuluk salam kepadamu), tetapi karena hadiahmu yang mewah ini, ada seidkit perubahan. Satu tingkat menurun, tetapi tidak sampai menuju kebencian.

Ulat bulu yang bijaksana

Sangat menyenangkan berkenalan denganmu. Tetapi bolehkah aku memohon? Tolong ambil hadiahmu kembali, ini terlalu istimewa untuk kami. Kami tidak bisa menyimpannya terlalu lama. Kami ingin hal yang lebih cerah daripada kali ini. Aku mohon, segera bersihkan dirimu dari gatal itu, sehingga rasa gatal itu tidak terlumat dengan bajuku dan menempel di kulitku.

Ulat bulu yang bijaksana

Sejuta terima kasih kuucapkan. Kuizinkan kamu mengabulkan permohonanku.

Rumah nan rindang, WRK(Waktu bagian kamar)

Miranti Verdiana Dewi

Lalu mengapa mau menulis ini di blog? Alasan yang pertama adalah niat dan sedang terjalin dnegan internet, daripada kasihan dengan nasib buruk blog yang semakin melarat dari pengunjung, maka aku pun ingin mengisinya kembali.

Yang kedua, karena ulat yang kelihatannya amat sangat bijaksana itu kembali memberikan hadiah kepadaku. Tepatnya ketika tanggal 6 April 2011. Aku tersiksa lagi setelah mandi.

Semoga kamu tidak memberikan hadiahmu lagi. :D



My activities

style='overflow:auto; height:200px'>