Minggu, 30 Mei 2010

Sudah

0 komentar

Aku bukanlah ilmuwan

Mau dipanggil sastrawan pun juga tidak

Untuk jadi pahlawan sangat sulit

Apalagi hanya manusia


Kecil itu nyaliku

Sunyi itu gelisahku

Kalaupun ingin tahu menahu

Itu pun hanya seperkian titik


Lalu apa aku ini?

Manusia? Pasti iya

Remaja? Sangat benar

Anak? Boleh juga


Kini kutemukan secercah jawaban

Yang tak seberapa bermakna kuat

Bukan status yang harus terjawab, kawan!

Sudah! Jangan banyak tanya!

Sabtu, 29 Mei 2010

Kilauan mata semangat itu datang lagi

0 komentar
ada yang berubah pada hari ini.
Ada yang berebda pada hari ini.
Apaaaaa?
hehe
Menurutmu apa, mir?
aku fikir fikir.. hmmm,
dimulai dari awal ya
Kamu bisa bangun pagi? haha, tak! jam segitu aku biasanya bangun, malah biasanya lebih pagi.
Di sekolah, waktu jam bahasa jawa, kelompok kamu bermain lumayan bagus? bukan itu, neng!
Ketika sepulang sekolah, aku dan salah satu temanku ke musola, dan dia bertemu prince charmingnya. wkwk? haha, itu mah untuk dia, bukan berbeda untuk aku!
Kamu pulang nggak soree bgt! lumayanlah? haha, tidak! bukan itu kok!

Jiaaaah, so? what is it? i am confused now!

okeh, okeh.
Sekarang, aku temukan mataku dengan kilau mata tanda semangat yang telah hilang beberapa bulan ini.
aku baru menyadarinya ketika pelajaran matematika. Aku merasa lebih nyaman, dan tak terlalu banyak beban. Beneran!?
Nggak seperti biasanya..

Allah! thanks, you give me spirit from your creature.
Ini karena salah satu note teman di facebook aku, dan isinya tentang motivasi.
Aku yang tidak sengaja membacanya, menjadi terharu, dan ingin seperti dia.
hahahahas, keren dan kalau tahu tentang isi note nya!
Bahasa inggris sih, tapi bagus!
Okeh, semangat untuk belajar lagi!
Caiyoo!!!

Salam persahabatan


Miranti Verdiana dewi

Jumat, 28 Mei 2010

Kerasnya hatiku

0 komentar
Aku mengeluh.Gerutu merasuki sel demi sel tubuhku. Pingin teriak. Teriak. Dan teriak. Seringkali aku berfikir. Ini tidak adil. Namun aku mencoba untuk pungkiri itu. Diam, tarik nafas. Namun tetap saja seperti tadi. Keluh. Mengeluh. Keluhan. Berparade di otakku.”Aku hanya ingin memasuki yang aku inginkan”, teriakku dalam hati. Aku sudah tidak bisa memohon itu kepada ayahku lagi. Aku tak mampu.
Tanpa pikir panjang, aku naik ke atas menuju kamar tidur. Kuselonjorkan kakiku. Terdiam. Memandang dinding polos di kamarku. “masak aku harus bergelut dengan darah, suntik dan obat obatan yang sullit terhafalkan”,keluhku. Terbayang puisi Chairil Anwar, novelis Helvy Tiana.
Tiba tiba, “Ranti, sudah makan, nak?”, teriak ibuku menghambarkan bayangan itu. Aku terlemas. Aku enggan untuk menjawab. Gemuruh amarah masih memenuhi tubuhku. Aku bangun sejenak. Membenarkan pikiranku.”belom”, teriakku.
Lalu aku terdiam lagi. Biar sajalah ibuku menghampiriku. Aku lagi rapuh”, pikirku. Ibuku memanggil lagi. Tapi kuacuhkan. Aku tenggelam dengan bayangan bayangan orang favoritku.
“Ranti, dipanggil ibu kok nggak dijawab sih, ayo makan”.
Langsung saja ku turun ke meja makan. Yah, kita harus ngajeni orang tua kan? Maka dari itulah aku menuju meja makan. Meski agak malas gara gara pemaksaan tadi.
“Ayah kemana , dek?”, tanyaku ketika meneliti sekeliling meja makan dan tak kutemukan tanda ayahku berada.
“Beliau rapat di balai desa”, jawabnya.
“Syukurlah”,batinku tersenyum. Sedikit berkurang kekesalanku. Bukannya aku tak mau bertemu ayahku. Cuman aku lagi kesal dengan ayahku.
Well, pada dasarnya itu adalah pengekangan, kawan! Pembatasan! Dan aku tak suka itu.
Aku makan secukupnya. Antara aku, adikku, dan ibuku hanya suara ketukan sendok membentur piring yang terdengar. Kami sibuk dengan pikiran dan makanan masing masing. Terlebih aku. Aku ingin cepat cepat menyelesaikan makan malam ini.
Setelah selesai. Aku menuju kamar tidur. Dan pikiranku langsung terbawa oleh mimpi.
Matahari menyinari bumi. Pagi telah datang serta menyambutku ketika aku bangun. Aku terhenyak,”Astaghfirullah, aku belum sholat shubuh”. Segera aku bangun dari tempat tidur, cuci muka, dan langsung sholat shubuh. Kulihat 3 sajadah yang tergeletak rapi di lantai tempat sholat. ‘Berarti, adik, ayah dan ibu sudah sholat’,pikirku. Tak lama kemudian, aku sudah bersiap siap untuk pergi ke sekolah.
Aku berangkat sekolah tetap dengan mulut terdiam. Enggan untuk berbicara. Mungkin hanya ucapan,”Assalamualaikum”, ketika aku keluar dari rumah. Setelah itu aku tidak ingin berbicara lagi. Aku terperanjat ketika mellihat salah satu poster di jalan jalan yang aku lewati

“Hah? Ada Helvy Tiana Rosa juga? Aku mau ikutaaan! Aku mau kesana!”, aku terlonjak kegirangan hingga aku menjadi pusat perhatian orang orang disampingku. “Aiih, nyantai, ti!! Nyanttaaai!! Lebaay!”,bisikku pada diriku sendiri. Aku kembali riang sejenak. Hingga angkutan umum telah membawaku sampai di depan SMA ku.
“Huft, tak terasa aku sudah hampir 3 tahun di sini. Banyak segala kenangan yang sudah terpupuk. Dan sebentar lagi aku akan keluar dari sini.”
Segera kupercepat langkah kakiku menuju kelasku. Berbaur dengan teman temanku.
“Ti, kuliah ambil jurusan apa?”,Tanya Amy.
Aku linglung untuk menjawab,”Hmm, aku kurang tahu. Kalo kamu?”.
“Hihi, aku mau ambil jurusan informatika. Sudah dari dulu aku persiapkan. Aku juga sudah belajar dari orang orang informatika”.
“Wadew, keren kau ya! Iya ya, kau paling suka berkecimpung di dunia IT. Ckck. Semangat”, kataku sambil tersenyum palsu.
‘Bukannya aku iri. Aku ikut bahagia melihat teman mencapai cita citanya. Tapi mengapa aku tidak bisa!’, keluhku dalam batin.
Kami saling berngobrol tentang jurusan yang hendak kami capai. Semakin seru mendengar keluh kesah Amy dalam memperjuangkannya. Begitu juga dengan teman teman lainnya. Tak terasa, kami diijinkan untuk pulang. Aku pulang dengan wajah muram lagi.
“wah, ranti sudah pulang”, sapa ibuku ketika aku melepas sepatuku.
Aku tetap terdiam. Namun ibuku semakin mendekat.
“ada apa, nak? Dari kemarin kamu diam terus”, Tanya ibuku sehalus mungkin.
Aku tak kuasa untuk menceritakan itu.
“Bu, kemarin, ketika aku pulang sekolah dan ibu belum pulang ke rumah. Ayahku memaksa untuk masuk jurusan ke Kedokteran”,aku terdiam, menunggu reaksi ibuku. Namun beliau memasang raut muka untuk menunggu lanjutan ceritaku,”Aku nggak mau , bu! Aku pingin nulis! Aku pingin masuk ke bahasa dan sastra!”.
Ibuku mengelus pundakku. Aku terisak. Tidak bisa ditahan lagi. Aku merasa, cita cita ku telah hancur.
‘”Ranti, mungkin ayah punya rencana lain yang lebih bagus untuk kamu”,jawabnya.
“Tapi bu, aku lebih nyaman di bahasa dan sastra Indonesia! Aku paling benci dengan menghafal”.
“Tidak selamanya, suka menulis itu masuk ke jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Banyak orang orang yang berprofesi dokter, namun mereka masih bisa menulis”,cerita ibuku,”Sebenarnya, menghafal itu mempunyai trik. Pasti suatu hari nanti kamu suka dengan itu”.
Aku merenung. Mencermati cerita ibuku.
“Kita serahkan kepada takdir saja. Ikuti saran ayah. Mungkin itu takdir ranti disana”,kata ibuku.
Tiba tiba ayahku muncul dari pintu depan rumah. Badannya sudah sangat payah.
“Tapi, bu, aku pingin liat pameran buku bersama Helvy Tiana Rosa”,bisikku kepada ibu.
“Iya, nanti aku bilangkan ke ayah”.
Aku menghambur ke pelukan ibuku. Lalu berjalan menuju kamar. Makan, sholat, dan kemudian istirahat. Kulirik sekeliling rumah. Ternyata ayahku pergi untuk rapat.
“Ranti, jadi apa nggak ke pameran buku! Ayo cepat mandi”, Kata ayahku ketika tiba setelah rapat.
“Iya, iya, mau”. Aku terlonjak kegirangan. Aku segera mandi.
Subhanallah, ayahku sudah kecapaian, sudah payah. Namun masih saja mau menuruti permintaanku. Hanya untuk mengantarkanku menaiki sepeda motor berdua di sore hari menuju pameran buku.
Sekarang aku mau daftar ke kedokteran dan menjadi penulis hebat. Caiyoo!

Pink butterfly
NB : haha, terinspirasi dari teman, dan sedikit dari diri sendiri.
dan akhirnya kujadikan untuk tugas cerpen! mantap! pikiran spontan, pokok'e dadi! haha. :D

Kamis, 27 Mei 2010

Hari yang penuh dengan kecapekan

0 komentar

Hmmmm, so deep heart!
perasaanku campur aduk.
Tidak tahu harus berkata apa. aku kesal, sedih, terharu, bahagia, bangga. Wes, pokoke aneh lah.
Sebenarnya bukan hari ini sih. Melainkan hari kemarin.
Benar benar capek.
Pagi hari, seperti biasa, aku menjalani kelainan. Sakit perut. Entahlah, tiap pagi, jika udara dingin, aku selalu sakit perut.
Setelah itu, sampai sekolah, pelajaran seperti biasa.
eeeh, karena kemarin aku tidur larut malam. Siangnya kepalaku pusing dan pingin tidur teruus!
Di pikiran sudah bukan pada pelajaran, tapi ingin cepat pulang.

tret..tret..tret..
Well, bunyi waktu pulang sekolah berbunyi. Kemalangan menimpaku.
Ternyata ada bimbel siang.
Grrr, bahasa inggris. Listening pula. Masuk setengah setengah saja, gaaan!

setelah selesai, karena hujan, aku putuskan untuk menunggu temanku yang sedang ikut ujian susulan. kami menunggu, menunggu, dan menunggu.
Hujan belum reda, dan ujian mereka telah selesai.
ayu says,"lho rek, aku disusul ayahlku. Mau bareng nggak?".
Well, okelah, aku bareng saja. lumayan. hahaha.
Agak lega setelah itu.

Ketika sampai di depan rumah. Aku bertanya tanya,"Lho, ada apa nih? kok rumahku kayak mau dibangun".
eeeh, aku baru tersadar kalau rumahku mau direnov, bukan rumah sih, namun cuman kamar2 tertentu saja agar terlihat rapi dan bersih, karena akan kedatangan survey dari orang asing. haha.
Ceritanya nih, aktifis pelajaran bahasa inggris di sekolah kami,mengatkan padaku bahwa guru pendatang dari luar negeri akan tinggal di salah satu murid SMA kami. Dan salah satu calon itu adalah aku. menyebalkannya, tuh pemberitahuan mendadak banget!
kelalapan dah kita.
Ketika itu aku bertanya kepada ibuku,"Bu, kalau seandainya, orang itu jadi tinggal di rumah kita. Kalau November annti, anak Singapura mau nginep di rumah kita, boleh nggak".
jawaban beliau,"yah, pilih salah satu!". Hiks, aku jadi bimbang jika memikirkan itu.
Badanku sudah remek. Ditambahi ini lagi. Kerja keras untuk rumah kami.
ckck. Walhasil, setelah aku bantu orang rumah, DIKIT2. aku ketiduran di kursi. wkwk

Aku terbangun jam 22.30.
Orang rumah masih disibukkan dengan bersih. Namun, sudah akan mangkat untuk tidur.
Aku ke kamar mandi, sholat, dan ke atas untuk tidur dengan kepala berat sekali. Kepala pusing.

Sesampai di atas. Eh, bentar, aku mau ambil laptop sekaligus modem, mau online sejenak.
sebenarnya ada tugas penting. Tapi nggak seberapa penting sih. Karena aku sudah memutuskan untuk menunjukkan obrolan kita baik di blog dan facebook. Tapi rasanya ganjil
Mengumpulkan hasil komunikasi dengan anak Singapore.

Alhamdulillah, Raihanah masih online. Chatting dengan dia. Dan kuputuskan untuk mengirim email ke dia. Aku tunggu, dan kutunggu. Sekalian mendownload video ciptaan raihanah di facebook.
Haha, dan akhirnya aku ketiduran dalam keadaan online :D

So be crazy!
Waktu aku menunggu email balasan dari Raihanah, kepalaku sudah pening sekali. Berat sekali. badan sudah tidak berasa. ckckck

Eeh, sebelum aku tidur, aku sempat membuka facebook teman teman. dan aku terhenyak ketika membuka salah satu teman baruku. dan itulah yang membuatku sedih, yang membuatku terharu, dan membuatku bangga.
Dia bercerita bahawa dia akan berhenti untuk tidak membuka facebook dulu, dan fokus terhadap cambridge!
gaaan! kereeen , kan!
penyampaian kata kata nya juga bagus. Dengan kalimat perbandingan.
Bisa dibilang orang sastra tuh! hehe.
Tapi sedih, aku berharap bisa ngobrol banyak dengannya. Namun ia tidak akan online.
Hmmm, semoga ia dapat yang terbaik.
Aal Izz Well


Salam persahabatan


Miranti verdiana Dewi

Minggu, 23 Mei 2010

Happy birthday , rantiiiii!

0 komentar
haha, okeh. I will try to create english posting.
Well, i dont know, what can i say.
So, sorry if i has written no connect.
hmm.
i was so happy when last week i was standing in my birthday.
I give many surprise.
I got mmodem fren. So, i can connect to internet in my home. I no needed walk to warnet.
So, niceeeee!!! although, this connect is rather weak.
Many friends say 'happy birthday' for me.
There are, first, my parents, amy, markzy, eliya alivia, adelia, putrianne, My classmates, my friend in school.
Raihanah, david, putri say too.
ainun, mala, silvy, endah, mas wahyu say too into my handphone.
But, just two friend who 'amat sangat ingin sekali' i hope no say for me.
okelah, never mind..
I can enjoy my birthday!!
lol

By : Miranti Verdiana Dewi

Sabtu, 22 Mei 2010

Antara Kelebihanmu dan kekuranganmu

0 komentar
Sungguh, ku akui, memang sulit membedakan semua ini di dunia ini. Bisakah kalian fikirkan? Disaat orang tersebut mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki orang, ia malah mencari cari kelemahannya dan meminta kelemahan itu menjadi kelebihannya karena meniru orang lain.
Kalian mengerti tentang pendapatku kan? (hehm, soalnya, hanya 1/21 orang yang mengerti statement aku. Percayalah!).
Lantas, buat apa kita cari kelemahan kita dan berusaha menutupinya, mencari segalacara, menghabiskan waktu waktunya untuk menutupi kelemahannya. Buat apa?
Hanya ingin pamer, “ini lah aku yang perfect”. HANYA karena itu? Iblis banget.
Atau semua orang berkata, “hehm.., gengsi non!!!”.
Apalah arti semua itu, jika hidup kita ternyata hancur? Ada artinya apapun! Suer dah!
Lebih baik, ok. Tutupi juga tutupilah kelemahan kita, tapi jangan over lah, biasaa aja napa..!
Tapi, kita mempunyai kelebihan kan? Kita peliharalah dia dengan sebaik baiknya. Kita jaga. Kita lestarikan.
Tapi juga, jangan terlalu over! (terlalu ama over apa bedanya)..
Selalu semangat dalam diri kita!
Caiyoo!

Salam persahabatan

Miranti verdiana dewi

Jumat, 21 Mei 2010

Boy imitasi

0 komentar
Pertama kali aku memergoki wajahnya, aku membatin,”dia mirip dengan boy”.Aku telah menjadi secret admirer boy.Tak ada yang tahu.Hanya beberapa dari sahabatku saja.
Ia duduk beserta teman teman lainnya. Mereka terdiam.Aku pun terdiam, seperti hal yang biasanya aku lakukan.Aku biarkan keheningan menenggelamkan pikiran kita dengan disertai teks bacaan tergulai lemas dihadapan kami masing masing.

“Diskusikan dengan teman teman, sayang”,kata Bu Salha, guru kursus Bahasa Indonesia kami, memecahkan keheningan diantara kita.
Aku sibuk membuka kamus bahasa Indonesia ku. Dia ada dihadapanku.Kuacuhkan sebentar tentang tingkah lakunya.Aku gembira, ada pengganti rasa rinduku ke Boy.
Diskusi, penjelasan Bu salha mengajak kami terjun bebas menerjang waktu.Terasa begitu cepat, waktu les telah habis.Kutenteng tasku.Ku pamit kepada Bu Salha.Dan Aku pun pulang.

Aku tak mengerti apa yang terjadi pada diriku. Hal yang dominan yang membuatku mengira dia sama dengan Boy adalah warna kulitnya. Sekaligus ketika mereka tertawa.Persis sekali.Sulit terlupakan.Sulit terhapuskan. Stanley. Itu nama yang kueja ketika aku mengisi daftar hadirku.

***

“Hei, melamunkah saja dikau?”, ucap Reina mengagetkanku. Ia satu satunya yang tahu kapan aku serius, kapan aku melamun.
“Apa siiih, kamu ini”, kataku menyembunyikan wajah. Aku tahu, aku telah kehilangan control. Tapi aku tak akan menceritakan kepada siapapun tentang hal ini. Tak akan pernah ada.

***

Ku bertemu lagi dengannya di kelas kursus kami, kali ini kuketahui dia bersama seorang teman, mungkin sahabatnya. Mereka telah akrab.Ku ambil kesimpulan itu dari percakapan mereka.
Namun ku coba tak pedulikan, ku fokuskan ke pelajaran waktu itu.Tak kubiarkan canda tawa mereka, meski aku menguping sedikit saja.Aku fokus, fokus dan tetap mencoba untuk fokus.

Sahabatnya bernama Putra.Kudapatkan nomornya bersama kawan kawannya dari sahabatku yang sekursus denganku.
Kali pertama ku berkenalan dengannya, aku sudah malas dengannya.Alay kurasa.Namun kucoba untuk tetap menghargainya.Ia adalah teman baruku. Yang berperan penting dikedepannya.

Di tempat lain, Reina sekursus dengan kawanan dia.
“Senangnya aku boleh bertemu dengan Putra. Dia satu satunya teman aku yang paling baik”,tiba Reina curhat kepadaku.
Ku diamkan ia, ia berceloteh, dan aku sesekali tersenyum. Meski ia bercerita sedih pun aku akan tetap tersenyum. Aku hanya mencoba melakukan pelajaran moral nomer satu (ceila, kayak Laskar pelangi aja) : hargai cerita orang lain, dan kujalani dengan tersenyum.Sesekali aku sok tahu tentang masalahnya.Namun itu tak sering.

***

Kursusku waktu itu libur, dan hanya kursus Reina yang masuk.Rasa percaya diriku atas kemiripan Stanley tiba tiba pupus perlahan lahan. Aku tak yakin, apakah ia persis dengan Boy. Benar benar tak yakin.Kucoba untuk membayangkan mereka berdua.Namun tak ada kemiripan. Ghosh! What’s wrong with my eyes?!
Reina membuka cerita kembali,”Cobalah kau tengok! Ternyata Putra menyukai Wahni.Sakitlah nian hati aku”.
Ku membuka mulut,”ya mungkin dia nggak tahu, kalau kamu suka dia, Na!”. kataku lembut, agar tak menyakiti perasaanya. Ia terlalu sering disakiti orang. Aku tahu, bukan orang orang yang salah, tapi dari Reina saja yang memiliki tingkah laku buruk.
“Aku tak berani. Coba awak jadi aku! Pusing!”, katanya lemas.

Aku tak bisa berucap apa apa. Aku masih lugu waktu itu.Aku punya rencana. Ku biarkan ia melamun. Dan aku pun mencari ide untuk membantunya.Aku tak tahan melihat teman nelangsa.

Stanley, bisa bantu aku g?

Akhirnya kuberanikan diri untuk memencet tanda send. Aku tak tahu harus memulai darimana.Aku ikutan bingung.Dan tiba tiba muncul Stanley di pikiranku.
Lama tak dibalasnya. Aku lemas.Penantianku pasti sia sia.Ku buang HPku ke tempat tidur. ‘Ku harus pikirkan cara lain’gumamku.

Lama bermenit menit, ku terdiam. Mencari akal.HPku berbunyi.Ku abaikan.

Setelah pasrah. Kubuka HPku. Satu pesan baru muncul di layarnya.

Apa


Aku tak percaya.Ini kah Stanley yang balas?

Pelit nian lah anak ini dalam SMS.
Q btuh bntuanmu. Tw Reina, kn? Hmm
Sblmnya, keep y!



Dy suka putra. Bntu aku utk ktakan ke putra!

Aku deg degan menanti balasan dari Stanley. Aku takut hal yang besar dan buruk akan terjadi. Aku benar mengenal Stanley. Jika ia bisa keep semua itu. Aku akan mengakui ia mirip dnegna Boy. Hoho.

Y blng aj k dy


‘Argh! Cuek amat sih ni anak!’, bantinku ketika membaca balasannya.


Ngpain q blng k u klo dy brani blng k putra?!

Lama tak dibalasnya. Aku menanti dan menanti.Sesekali bercanda dengan saudaraku di rumah.Sepuluh menit masih kunanti.Dua puluh menit terasa bosan.Tiga puluh menit kuabaikan. Empat puluh menit..
HPku berbunyi : call

Halo, Assalamualaikum. Sapa nih?
Halo, ini Stanley.
Oh, apa?
Maaf ya, SMSmu nggak aku balas, aku kehabbisan pulsa.
Oh ya, nggak papa. Ini nomor siapa?
Nomor temanku.Udah dulu ya.
Ya.Maaf ngerepoti.

Hah? Stanley meneleponku.Jarang jarang kuterima telepon dari teman cowok.

***

Aku berangkat kursus, ku bertemu teman teman seperti dulu.Kali ini kumencoba untuk meledek Putra dengan Reina.Ia terdiam. Acuhkan aku.
“Awak itu kenapa cakap cakap ke Putra kalau aku suka dia?”, kata Reina marah, tepat waktu ia datang ke sekolah, beridir dihadapan tempat duduk kami.
“aku hanya bercanda, na! Aku nggak serius”, aku membela.
“Pokoknya kembalikan ke semula.Kemarin lusa dia habis nembak aku.Gara gara kamu, sekarang aku mau terima dia, tapi dia tarik perkataanya dulu”.
Reina membuka muka.Ia keluar.

Stanley, gmn nih? Gra2 q kmrn, Putra mrh k Reina, n skrng Reina ngin balikin keadaan k smula.Q g tau hrs bgaimna. Bntu aku!

Y

Ealah, jawaban simple amat yah! Grr, rasanya nggak kuat.Bingunglah saya dengan semua ini.

Thx y! u adlh satu2ny shbt cowokku!

Singkat cerita, Reina sudah tak marah lagi denganku, dan ia mulai bercerita.
“ternyata Stanley suka kamu! Kemarin aku dengan dia smsan, awalnya aku dulu yang sms dia. Minta bantuan agar aku dengan Putra baikan.Tetapi dia juga ingin dekat dengan kamu. Dia suka kamu!”.Katanya, matanya berbinar bahagia.
Disampingnya, aku lemas tak berdaya,”kenapa jadi begini?Aku nggak mau dia suka aku, meskipun aku suak dia. Semua itu pasti bakal menyakitkan”, aku membatin.
“Tapi jangan tanya tanya ke Stanley ya tentang ini. Aku disuruh merahasiakannya”,katanya setengah berbisik.
Aku mengangguk lemah.

Sahabatku.Mengapa seperti itu?Aku tak ingin dia kecewa.Meski aku tahu, belum tentu ucapan Reina benar.Tapi aku hanya mengantisipasi saja. Aku tak akan membebani dia lagi lewat sms smsku. Meski kesal melandaku.Meksi aku tak tahu mau cerita ke siapa.Ku biarkan perasaan itu.

***

Aku terdiam di kursus, aku tak berani menatap siapapun.Pikiranku kacau.Semua tak masuk di kepalaku.
Meski Putra, Stanley, dan teman teman saling bercanda. Aku tetap terdiam.
Sementara itu, di sekolah Reina memberiku sejuta pertanyaan dengan tema’mengapa tak mau dengan Stanley’.Berkali kali kuucapkan, aku tak mau dia kecewa. Tapi ia tetap ngotot mencari jawaban yang memuaskan.

Pikiranku lelah.Apakah aku juga menyukai Stanley?Aku suka Stanley seperti Boy. Tapi tak suka Stanley yang sebenarnya!
Lama tak berkontek dengannya. Lama tak bercakap ria dengan teman teman semua.

***

Hingga masih kuingat.Siang siang hari, ketika ibuku menyuruhku untuk mengangkat jemuran.
Aku smsan dengan Stanley. Dengan cadangan nomer Stanley yang lain. Kami saling bercerita kesan kemari.
Hingga ia berkata

Mau g jadi cewekku

Maksudnya?
Pacar
Oh, gosh!!!!!!!!!!!!! Ini Stanley kah?Aku yakin ini bukan dia, apakah ini dia? Tak gentle banget dia mengatakan itu di SMS!
Dengan jawaban seperti dulu.Kurangkai kataku secantik mungkin.Untuk sahabatku.

Maaf, u adlh shbtku cowok yg paling baik. Q ngin qt mnnjd shbt.Q rasa itu yg lbh baik.

Ok, klo bgtu lupakan sja tdi

Y, tp qt ttp shbt y?!

Ia tak membalasnya. Aku lemas.Ku ceritakan ini kepada sahabatku (bukan Reina) yang kuyakin dia menjaga amanatku.
Lama tak bertemu, lama tak berhubungan.
Aku membencinya karena suatu hal yang ku juga tak mengerti apa itu.
Hingga sekarang, aku mengetik semua itu disini.Sekarang kita sering bertemu dengan satu hobby.
Entah, setan apa yang membisikiku untuk katakan bahwa sekarang AKU MENYUKAIMU, Stanley!


By : pink butterfly, cerpen yg pertama kali dibuatnya yg berbau cinta. haha

Kamis, 20 Mei 2010

Penantian itu merugikan

3 komentar
Aku tak bicara tentang ketidakadilan
Aku tak bicara tentang kesedihan
Akupun tak bicara tentang penyumbatan mulut
Aku bicara tentang penantian
Penantian yang semestinya kau mengetahui itu
Penantian yang tak mungkin kusalahgunakan
Penantian sekaligus harapan
Meski kutahu, ternyata itu kecewa
Tapi kuyakin akan terselenggara
Aku tak bermaksud mempersulit
Tapi aku tak bisa mengatakannya
Aku tak ingin kegundahan itu merajalela
Tapi inilah aku
Berdiri dengan beribu kegoyahan
Maaf atas itu. aku memang orang yang rugi

Rabu, 19 Mei 2010

cuplikan pengawuran

0 komentar

Persahabatan tak terpaut dengan umur.

Bersahabat bisa dengan siapa saja. Tidak memandang umur, tidak memandang tempat, dan juga tidak memandang apapun.

Mungkin itu yang bisa kupetik dari sini.

Namaku MIranti Verdiana Dewi. Remaja yang lahir di Jombang, dan sedang sekolah di suatu SMA Negeri di desa namun, bertaraf modern. Bukan sombong ya. Keinginanku yang dulu ingin di sekolah kota ternyata terhempas dengan SMA ini.

Aku tidak membicarakan tentang SMA ku ini. Tidak ada sangkut pautnya tentang ini. Malah, tidak akan dibicarakan di kemudian nanti.

Persahabatanku berawal dari idola yang sama. Maaf, aku tidak akan menyebutkan nama idolaku ini. Kita biasa memanggilnya dnegna nama,'master'.

Sahabatku, kita panggil aja Ita, cewek yang berkepala dua, berada di Jawa Barat, sedangkan aku di Jawa Timur. Terlalu jauh kan? Bertemu saja tidak pernah. Kami hanya sebatas teman SMSan, teman telepon. Dan teman cerita. Hmm, pastinya teman sharing tentang idola juga.

Aku telah lupa karena aku orang pikun bagaimana kronologinya. Namun, yang aku tahu, aku mendapatinya terbayang di kepalaku dengan muka memelas meminta nomer idola kita kepada salah satu temanku yang lain.

Aku punmengetahui ini semua dari temanku itu.

"Ranttiiii, Ita minta nomer nya master. Sampek nangis nangis tau nggak!", kata temanku curhat kepadaku.

Naluri orang, pasti akan kasihan dengan hal seperti itu. Seorang fans yang ingin sekali mendapatkan nomer idolanya. aku pernah merasakannya.

Oleh karena itu, ku kasihkan saja nomer master kepada Ita.

Suatu ketika, aku menelepon master. Kami ngobrol seperlunya. Tiba tiba master menyebut nama Kak Ita. Masih terngiang di kepalaku kalimatnya,"kakak kenal Ita. Dia teman kakak ketika berkumpul di kegiatan agama".

"deg". Aku hampir tidak percaya dengan ini. Apa maksudnya? mereka bersahabat? Tapi kenapa nggak tahu nomer masing maisng. Kenapa Kak Ita nggak pernah kasih tahu aku. Nggapk pernah cerita kepadaku.

Setelah pemeberitahuan itu. Kututup telepon. Dan ku tanyakan kepada Kak Ita.

Dia pun ngaku."Iya, teman. Tapi jarang ketemu. Kita berteman 2-3 tahun yang lalu. setelah itu lost kontek".

Dan kupercayai saja itu.

Terlalu lama kami berteman, dia bercerita apa saja. Tentang keluarganya. Tentang teman temannya. Tidak luput juga tentang anaknya. Heii, dia mempunyai anak! Tidak kah kalian bayangkan? Aku kaget setengah mati ketika mengenali dia dan mengetahui bahwa dia telah mempunyai anak. Jumlahnya dua lagi!

Sedikit tak percaya. Aku merasa telah menjadi ___ di novel dvatl_______.Baca saja novel itu. Itu adalah novel terjemahan yang menceritakan pengalaman penulis yang mempunyai teman yang sedang bermasalah berat. Endingnya? benar bennar aneh!

Aku ikuti segala ceritanya. Aku mencoba pahami. Menjadi pendengar yang baik. Aku mencoba untuk memberikan empati. Bukan acuh tak acuh yang dikatakan orang orang.

Kamis, 13 Mei 2010

Doing Test1 for AFS

0 komentar
kemarin minggu habis dari SMA A. Wachid Hasyim.
hoamb, lemoooot. lamaaa bgt nunggu nya. garing.
kita berangkat jam setengah tujuh. Ternyata dimulai jam 10.00. ckckck.
Kami tahu, ka rosandy, ka nita dan lain lain dari Malang, perjalanan yang melelahkan dan lama..
Soooo, tak apalah...
Ketika disana kami bertanya tanya,"sma A wachid hasyim. A itu apa siiih?".
Di setiap tempat yuang ada tulisan itu, selalu disingkat.
Kami mulai menebak nebak, mungkin ahmad, atau abdul?
Dan ternyataaaa, tret..tereeet, treeeeeeeeeeeeet, itu adalah akreditasi.
wkwkwkk
Garing ya?
Kami disana melakukan 3 test. Pengetahuan umum, bahasa inggris, dan essay.
Halah, pokoke aku ngawur tok! yang penting penuh.
Sebagai hiburan, aku, markzy, eliya, dan agung memutuskan untuk mengunjungi makam almarhum gus dur. Nggak doa2, atau bawa kembang sih, cuman liat makam nya doanG! wkwkwk. Yang pennting kita tahu akan makamnya :p
Kita pulang agak sore.
Aku nggak tahu tentang teman2, tapi aku pesimis akan test ini. Yang penting pengalaman baru, kenal orang baru, yey..

Minggu, 02 Mei 2010

Maaf tuhan

0 komentar
Seperti munafik di bola kehidupan ini
Menjijikkan
Bagaikan cacing menggeliat di siang hari
Argh..
Tuhan, ini kah yang kami bisa?
Munak, munak, munak dan munak
Segala mazmumah terselip di hati kami
Pantaskah kami, tuhan?
Jahiliyah menancap di otak kami
Maaf, tuhan!
Beribu ribu hujan dari air tubuh kami
Tuk katakan maaf
Namun, seperti dulu
Kami munafik
Maaf, tuhan
Kami takut berkata khilaf
Kami takut, setan membantu kami untuk tersenyum di dunianya

My activities

style='overflow:auto; height:200px'>