Sabtu, 27 Maret 2010

aku lemas, tak berdaya

0 komentar
Gelap bercengkerama denganku malam ini. Air tetap beramai ria mengetuk ngetuk apa yang bisa ia ketuk. Angin bergerak lembut menyisiri daun daun di luar sana. Aku sendirian. Dibalut dengan selimut tebal, memandangi hujan di luar sana di balik jendela kaca yang telah berumur. Bisa disimpulkan, aku melamun. Sambil duduk dengan kaki di atas, saking dinginnya malam yang gelap ini.
Tak ada siapa pun di rumah. Perlu kutekankan lagi, kawan! Aku sendirian disini! Gelap. Mati lampu. Dingin. Hujan. Angin lebat. Semua itu mengajakku bercanda. Dan biarkanku tertidur agar ku segera secepat mungkin menelan malam malam memuakkan ini.
Pagi sekali ku telah terbangun. Hujan telah reda. Tapi dingin masih menusuki tubuhku. Kulihat ayahku tidur terlelap di kursi depanku. Terlalu payah mungkin. Mengayuh dan mengayuh adalah pekerjaannya. Berjualan pentol keliling untuk memenuhi kebutuhan kami. Aku dan ayahku saja. Tanpa ibu, adik, kakak seperti kalian semua.
Ku beranjak dari kursi yang kujadikan tempat tidur kemarin. Meregangkan ototku sebentar. Dan menuju ke kamar mandi. Untuk siap siapkan segalanya. Akan sekolahku, kebersihan rumahku, dan sarapan keluargaku.
“Nak, ayah kemarin tidak mendapatkan uang sama sekali”,kata ayahku mengejutkanku ketika keluar dari kamar mandi. Aku terenyuh. Tak tahu harus merespons apa. Uang SPPku belum terbayar selama 3 bulan. Dan hari ini adalah akhir untuk melunasi uang SPPku semuanya. Tubuhku kaku. Kucoba untuk tersenyum. Meskipun tersenyum kecut pun juga nggak papa kok, tapi ternyata, pandanganku gelap, kabur, dan aku pingsan. Itulah yang mampu kulakukan. Tuhan! Aku tak mampu menjalani hidupku jika seperti ini terus. Bantu aku , tuhan! Bantu aku!

*****

Aku terbangun dan mendapati malam telah tiba.”Ya tuhan, haruskah malam seperti kemarin akan terulang lagi? Aku tak mau ya tuhan”, pintaku dalam hati. Namun, tanpa kusangka, ayahku membuka tirai kamar tidur, beliau tersenyum melihatku siuman.
“kok ayah nggak jualan? Uang untuk kita gimana?”,tanyaku lirih. Aku lemas.
Seketika ayah menunjukkan raut muka sedihnya. Namun, beliau masih saja diam.
Hatiku bertanya tanya, dan kuberanikan untuk menanyakan kepada ayah,”Ada apa, yah?”.
“Tadi, kepala sekolahmu seorang menjengukmu di siang hari. Ia juga menyertakan pesannya untukmu agar cepat sembuh. Tapi, nak, kepala sekolahmu juga memberikan ini untukmu”,kata ayahku sambil memberikan raporku yang setiap tahun selalu kudapati angka 5 tersenyum manis di barisan ranking.
Ku buka rapor itu, ku balik balik, di bagian belakang, tertanda, aku telah dikeluarkan dari sekolah.
“Maafkan ayah ya,nak. Ayah tak pantas memberikan semua ini. Ayah tak bisa menolak keputusan ini.”
Ku coba tersenyum yang aku bisa. Mencoba mengarahkan ayahku agar tak terbebani terlalu berat.
“sudah menjadi takdir, yah! Denagn begini, aku bisa membantu ayah untuk mencari uang”. Kupandang mata beliau, berkaca kaca. Ayahku memalingkan muka. Lalu keluar. Aku menutupkan mataku. Merenung.
Ya tuhan, apa yang harus ku perbuat untuk saat ini? Aku masih ingin sekolah! Bukan di sekolah favorit pun juga tak apa, ya allah. Berikan kami ketabahan. Dengarkan jeritan kesakitan kami selama ini. Dengarkan hamba yang lemah ini. Lindungi kami, ya tuhan”.
Ku menangis dengan memejamkan mata. Butir air amatku mengalir pelan. Perut keroncongan ku pun semakin memecahkan air mataku. Pelan pelan ku berucap di tubuhku yang lemas,”astaghfirullahaladim”, sambil bertasbih. Inilah makananku . Makanan kami.

*****

Ada seseorang menggedor nggedor pintuh rumah kami. Dengan kepala berat, ku membukanya.
Mereka membopong ayahku. Darah segar masih mengucur dimana mana. Air mataku telah habis. Tak mampu untuk keluar lagi. Pingsan pun tak mau dekat dekat dengan kondisiku. Ku coba tegar. Ku elus tubuh ayahku. Ku coba untuk mendengar irama jantungnya. Tapi memang benar kata orang yang membawa ayahku ini,”beliau telah meninggal, nak”. Pandanganku kosong. Namun, seperti tadi. Aku tak bisa menangis. Pun juga tak bisa pingsan. Hanya kosong.
Aku telah sendiri.

Jumat, 19 Maret 2010

Berhenti

4 komentar
aku. Bukanlah kau. kau. bukanlah aku
Kelam. Ketika memandang malam yang dingin
Sedu. Ketika madu itu pahit
Kesal. Ketika tak tahu siapa kita

Jika matahari muncul di malam hari
Bintang tersenyum di kala pagi
Itulah kemustahilan
Itulah binasanya kita di kemarin kelabu

Darah itu merah! Pertanda kesakitan
Tuhan! bantu aku merenung sewaktu saja
Ijinkan waktu koma. Berhenti
Agar tak salah langkah lagi

Minggu, 14 Maret 2010

Bukan senang melainkan senep

8 komentar
Well, I was surprise when there was new student in my class. (hala, grammarnya bener nggak tuh?).
Nggak terkejut amat sih. Cuman kaget sebentar, yah, kayak disengat listrik begonolah. *wkwk, mangnya pernah disengat listrik,neng?*. benar benar di luar dugaan, yang dulu nya di kelas aku ada kesebelasan cowok, yang terdiri atas Agung Ramadhan, Ahmad Rizky Yansah, Anthony Samuel Saiya, Daniel Sapta Nugroho, Dimas Febri Ananto, Febrian Adi Sukoco, Fikki Frediandika, Haidir Ali Murtadlo, Luhung Wahya Djatmiko, Teguh Rubiyanto, dan Zulfikar Alfat. Sekarang menjadi ke duabelasan cowok. (Itu berarti bukan tim sepakbola lagi kan?*mulai ngelantur*). Dan teman temanku pun terkejut , ternyata dia alumni sekolah kami. Well, seperti emang nggak adil ato bagaimana, tapi itu sudah jadi takdir, jikalau bahwa sebagian besar anak anak di kelas kami adalah alumni SMPN Mojoagung.
Nggak asing lagi sih, Yah, kita perkenalkan saja lah ia.
‘Perkenalkan nama saya Lukman Hakim, pindahan dari SMA 3 Jombang, alamatnya di gambiran’.
Udah titik, itulah perkenalan darinya ketika wali kelas kami mengutus dia untuk memperkenalkan diri.
Ketika dia masuk kelas, aku membatin,’kayak pernah tahu ni anak ya, tapi dimana, sepertinya nggak asing asing amat. Tapi dimana?’. Eeeh, teman teman berteriak,”Uim?!”. Well, lansunglah sinyalku penuh, ternyata ia adalah teman lama kami.
Nggak kenal sebenarnya saya, tapi tahu wajahnya. Mengobrol dengannya pun selama ini tak pernah.
Tappi dari itu juga, petir menyambar kelas kami. Bukannya kami nggak ikhlas atau gimana. Kami mau mau saja kok mempunyai teman baru. Tapii, jangan usik nomer absen kami! Jangan ganggu nomer induk siswa kami. Contohnya saja, nomer saya, yang semula 3935 (well, nomer kebanggaanku ada dibelakang (LIMA)). Janganlah usik itu. Jangan pula usik absen kami.
Ceritanya nih, ketika UH, ka nada ganjil dan genap, nah, kami dah bias menyesuaikan diri dengan nomer ganjil dengan ganjil dan genap dengan genap. Tetapi ketika ada murid baru. Pastilah terusik. (bukannya bermaksud contekan lho! Sebagian besar di nomer ganjil, jarang contekan). Tapii adalah alasan lain.
Well, kembali lagi, kita serahkan kepada Allah, *hiks, gue merana Allah!*

Selasa, 02 Maret 2010

apa cita cita menurut mu?

4 komentar
Ketika saya belajar bahasa Indonesia di SD, saya di tanyai oleh guru saya,”mir, cita cita kamu jadi apa?”. Tanpa berfikir panjang, ku jawab aja sesuka hati,”dokterbu”. Haha. Masih teringat di kepalaku. Mungkin itulah cita cita yang sering keluar dari mulut anak anak kecil sepertiku waktu masa kecil. Well, bias dokter, pilot, guru, bahkan pernah mendengar ada yang mau jadi presiden. Ckckck. Cita cita.
Sejatinya apa sih cita cita itu?
Menurutku pribadi.
Cita cita adalah suatu motivasi untuk diri kita agar sukses di hari kelak.
Cita cita adalah tujuan ke suatu tempat yang indah dan nyaman untuk kita datangi
Cita cita adalah pilihan untuk menentukan siapa diri kita ini.
Ka lies says ‘cita cita itu adalah mimpi indah yang membuat kita bersemangat saat bangun. Membuat kita bergairah menjadikannya sebuah kenyataan.
Mas wahyu says ‘sesuatu yang harus ku kejar dan buat ku semangat di hidup ini’.
Lely says ‘cita cita itu sebuah harapan serta ada doa didalamnya agar dapat kita capai dan terciptalah suatu kebahagiaan.
Adelia says ‘cita cita itu sebuah keinginan atau harapan kita di masa yang akan datang dan datangnya dari diri kita masing masing dan berharap akan terwujud.
Ria says ‘cita cita adalah harapan masa depan yang memotivasi individu untuk berjuang mendapatkannya.
Namun aku yakin banget kalau cita cita merupakan susunan huruf yang terangkai menjadi satu kata yang di eja menjadi ‘C-I-T-A-C-I-T-A’. *wakakak*.
Well, pernah ada orang yang berkata (karena aku lupa, tak kusebut namanya, maklumlah pikun stadium empat,), cita cita itu bukan berarti sesuatu yang muluk muluk, yang kita yakin banget tidak akan bisa mencapainya seperti pepatah pungguk merindukan bulan, namun cita cita itu haruslah disertai seberapa kemampuan kita, seberapa tanggung jawab kita dalam bercita cita ‘itu’.
Singkat cerita, Namun, ketika kita, khususnya saya yang telah mengenal pelajarang IPA, khususnya biologi, dan persyaratan ke dokter lama lama kendor dengan cita cita tersebut. Saya pun mengganti prinsip, tidak ingin menjadi dokter. Dan mencari profesi yang diminatinya (seperti akuuu, liatlah saja diriku, ada 2 pilihan di hidupku jika aku ingin kuliah nanti, ingin masuk ke jurusan bahasa Indonesia atau informatika. Hmm, itu cita cita, bukan? Tapi nggak tahu juga, sampai kapan kah itu kujadikan suatu cita cita?).
Berhubung gue orang plin plan. Orang tuaku turut andil dalam kebingungan itu.
Jangan dipikirkan itu dulu, pikirkan bagaimana kamu bisa dapat memberikan yang terbaik untuk masa belajarmu, dan nanti pasti akan menuai buahnya.
Ku hujani beliau dengan pertanyaanku yang aneh aneh,”kalau tak ada cita cita, kita tidak akan mendapatkan motivasi?”.
“Boleh boleh saja mempunyai cita cita, apa salahnya!”
Jawaban itu tak cukup bagiku, ku tambahi pertanyaan tak bernilai lagi,”jika cita cita itu tak tercapai? Kita pasti akan kecewa dengan cita cita itu”.
Dari jawaban inilah, aku akan terdiam, dan aku kan menyinggung senyum,”jika Allah tak menghendaki kita akan cita cita itu, berarti apa yang dihadapkan oleh allah itu adalah yang terbaik untuk kita, meskipun itu bukan cita cita kita. Diserahkan saja kepada allah”.
Belakangan ini, aku pun mendapat jawaban yang sama kepada sumber sumber yang telah kupilih.
Hmm, apa lagi yang sedang kupikirkan ya? Lupa, mau mengatakan apa lagi.
Well, berhibung miss pikun sedang melekat di jabatanku. Sekian saja dari pink butterfly
Salam persahabatan


Miranti Verdiana Dewi

CATCH ME IF YOU CAN.

0 komentar
Itu adalah suatu judul film yang mampu membuat aku berdecak kagum *lebay, mode : on*.
Nggak Karen keren amat sih. Tapi alur ceritanya bagus, dan diberi bumbu itu adalah kisah nyata. Beuuh.
Well, to the point saja, film itu menceritakan seseorang yang teramat cerdas, masih kecil pula, dan pinter banget mengelabuhi orang orang yang ditujunya, FBI pun sulit banget menangkapnya, kecuali dia yang menyerahkan diri ataupun dia harus terperangkap karena oranng tua nya.
Dijamin terharu di endingnya, oiii! Amboi! Cool!
Alurnya maju mundur sii, tapi nggak bingung bingung amat kok untuk memahaminya.
Amat sangat penasaran? Coba saja lah cari di di internet, karena di internet kita bias mendapatkan apa saja yang kita inginkan. Wkwk.
Salam persahabatan



Miranti Verdiana Dewi

warning for pink butterfly

0 komentar

Beberapa hari silam, penulis mendapatkan pengarahan sedikit tentang mading. Entah, kok tiba tiba mendapat pengarahan, yang penting penulis bisa memanfaatkan pengarahan itu dan ingin penulis terapkan di pink butterfly.

Langsung saja, penulis mendapatkan kalimat pengarahan,”Jangan pikirkan bahasa baku, formal, EYD atau pelajaran bahasa Indonesia lainnya, yang penting nulis dan tuangkan isi pikiranmu”.

Dan penulis mulai nanti akan mencoba untuk menerapkan itu.

Memang sih, awalnya penulis kalau nulis nggak formal formal amat (ada di arsip paling bawah), namun, ketika surfing di blog orang, dan melihat bahasanya baku amet, penulis mencoba itu saja seperti itu. Hitung hitung mencoba jadi journalist. Tetapi, kini penulis ingin mencoba cari cara lain, yang lebih menarik, dan lebih hidup (insya allah).

Sekedhik mawon, sekian dari kami

Salam persahabatan

Miranti Verdiana Dewi

My activities

style='overflow:auto; height:200px'>