Rabu, 30 Desember 2009

ku ingin

0 komentar


Ku ingin kembali seperti dulu
Kembali senyum seringan mungkin
Ringan sekali
Seringan kupu kupu terbang
Ku ingin hapus kenangan itu
Hilangkan kau dan anak buahmu
Semua yang pahit pahit
Walau ku tahu, dulu ku rasa itu manis
Ku ingin kau hanya fana
Untukku dan orang lain
Bukan maksudku untuk jauhi kau
Tapi ku tak mau ada yang terluka
Karena keramahanmu
Mana jati diri yang telah ku bangun itu?
Sedetik demi sedetik telah termasuki
Oleh khayalan khayalan semu
Merontokkanku hingga terlampaui batas
Hanya aku yang bisa berkata
“caiyoo”
Hanya untuk diriku
Seorang………

Sabtu, 26 Desember 2009

kumpulan puisi lagi

2 komentar

Where is your realize?
I don’t know what is mean
Aku coba untuk tegar
Tapi kalian loyo
Ku coba membangkitkan kalian
Tapi kalian acuhkanku
Mana kata kata “frenship” yang ada?
Kalian seakan diamkanku
Diamkan dia
Bukan kalian, bukan dia yang salah
Maybe, perasaan kita yang tak dewasa
Akhir kata
Ku minta kesadaran kalian
And please, forgive me about all of my mistakes

To mama, kkQ yg cerewet n fren who feel it
(niih, waktu lagi ada tanda tanya besar bwt orang2 nih, yg tba2 misskontek)









Apalah dayaku yang bisa kulakukan
Kalian menghilang
Seakan memasa bodohiku
Acuhkanku diamkanku
Meski ku tahu, salah satu karena kesalahanku
Apalah yang harus kulakukan?
Kucoa untuk membuka mata kalian
Tapi ku tak mampu
Ku coba untuk mendinginkan hati kalian
Terlalu panas bumi ini
Hanya satu yang bisa kuucapkan
Maaf untuk semua
Maaf karena kesalahanku
Yang tak sengaja terbuat dariku
I am sorry my friends









Kuingin itu terpending
Untuk sementara waktu
Dan kau sadar
Apa yang kau lakukan salah
I hope u open your eyes
In there, there is a new spirit
And u can stand to walk on the world
Dan ku menanti
Kau dapat memegang beban itu
Seringan burung terbang
Di angkasa yang biru

(haha, to mamanya JSF tuh.. wkwkwk)


Jumat, 18 Desember 2009

kenalan dulu deh

0 komentar
HHmm, terlalu lama lah ku nggak ngeblog. Emang, rasanya nggak enak. Kembali ke formal yaah.
Ok, penulis comeback to blog. Tidak tahu, penulis mau mengisi artikel tentang apa. Sedang tidak ad aide.


To the point saja (yah, jadi meniru blognya sepuluh satu nih. Ada kata2 (to the point. Artikelnya dikit pula). Selama ini penulis lagi mencoba membuat blog dengan tim. Hasilnya jelek pastinya.
Ok, ini alamat blognya, www.sepuluhsatu-0910.blogspot.com
Mohon mampir yaah! (yang bagi baca blog aku se. Coz, jarang pula ada orang baca blog aku)
Sebagian besar, malah penulis berfikir, ini akan jadi secret yang terbuka tentang semua yang berhubungan dengan penulis. Artinya, secret karena jarang ada pengunjung yang baca blog ini. Terbuka artinya blog ini bisa dibuka oleh siapa saja, dan blog pastilah online. Hehe.
Akhir kata,
Salam persahabatan

Rabu, 09 Desember 2009

Ku dan kau berbeda

0 komentar

Hari yang indah. Mungkin itu yang dirasakan semua orang. Namun aku tidak. Aku tidak pernah merasakan hari hari yang indah itu. Aku tidak pernah mengenyam rasa rasa manis semanis permen. Aku tidak pernah bisa terbang seindah kupu kupu dan akku tidak pernah bisa menari secantik lumba lumba. Aku hanyalah seorang wanita yang hanya bisa merasakan pahitnya jamu, menggeliatnya seekor cacing, jeleknya kecoak di kamar mandi aku. Mungkin itu yang ada dalam pikiran aku. Rasa ini baru kurasakan ketika masa yang teramat pahit. Masa yang seharusnya aku seimut kucing berwarna putih, selucu boneka berbulu halus, tapi aku hanya bisa menangis dimasa itu, sedih berlarut larut tiada henti. Tiada senyum yang mengembang dalam benak aku. Di waktu masa SD.
Ku terbangun di waktu yang seperti biasa. Masa remajaku telah berkembang, tapi aku tetap merasa seperti dulu, tanpa belaian kasih dari orang tua, dari saudara, hanya buaian manis dari angin segar yang mengintip dari celah jendelaku yang kusam. Tetap seperti dulu, ku tersentak dalam tidurku, tak pernah kulakukan apa yang dikata pepatah idolaku ‘apa yang anda lakukan detik detik bangun tidur? Buka mata anda dan baca tulisan di depan mata anda yang bertuliskan saya bersyukur telah melewati sepanjang malam’. Karena dalam mimpiku hanya dibayangkan mimpi buruk, mimpi buruk, dan buruk. Hm, bunga tidur yang pahit.
Ditambah pula, waktu yang menyempitkan kegiatan aku. Ku terbangun kesiangan. Tanpa sarapan *karena tak ada yang membuatkan sarapan* ku berangkat sekolah tergesa gesa.
Tak ada yang memperdulikanku. Nothing, tak ada bapakku yang duduk setia menemaniku, tak ada saudara saudara aku yang ikut tergesa gesa karena mereka sedang kuliah. Dan tak ada ibu yang merawatku kembali. Jika kuceritakan ini. Sungguh, pahit rasanya. Except, computer kesayanganku, mungkin. Yang dengan setia menemaniku disaat waktu luangku, disaat aku ingin curhat dikala sedih maupun bahagia.
“masya allah, sekarang kan hari upacara. Aku udah telat”kataku sendirian. Ku semakin ngebut dalam melajukan sepedaku. Ku tak mau memalukan kelasku tuk kedua kalinya. Yah, memang, sudah kedua kalinya kelasku termalukan karena ada warga sini yang tiba terlambat. Dan parahnya, semua itu dengan pelaku yang sama. Myself.
Setiba di sekolah, secepat kilat ku taruh tasku di depan kelasku,’kelas sudah sepi, pasti pada berkumpul di lapangan. Ku terlambat lagi’batinku. Lalu dengan kecepatan express, ku berlari ke lapangan. Dan, “What the hell?? Pada kemana orang orang? Sepi banget, nggak ada seorang pun disini, guru guru juga nggak ada!”, ku terperanjat. Ku tengok jam mungilku yang telah reyot, ‘sudah jam 07.15.’batinku.
Ku terduduk di tengah lapangan. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Hanya bengong. Ku ingat ingat apa yang salah denganku,”Oh my god, sekarang kan hari minggu. Bukan hari senin. Pantes, sepi amat. Odonk. Odonk”>


Jumat, 04 Desember 2009

Ku haruskah mengenyam masa lalu itu lagi?

0 komentar

“jeglek.., mirip banget tu anak ma pacar gue yang lama ya”, batinnya dalam hati. Ketika ia mengammati DenHa. Tanpa ia sadari, ia melongo sendirian. Untung nggak ada yang perhatikan ia.

Ya., maklum, dia pindahan dari SMA 2. Itu pun dengan terpaksa ia ke sekolah ini dikarenakan masa lalunya yang pahit.

“Ada pa ka?” tanya teman sebangkunya.Ela . Ia kelabakan. Tidak tahu harus berkata apa. Diam. Lalu begitu saja meninggalkan temannya. Ela celingukan mencari sumber sumbernya. Mencari rumus rumusnya. Maklum, terlalu pandai ia dalam Fisika. Sehingga segala kegiatannya diwarnai dengan rumus. Rumus. Dan rumus.

“Ooh, si DenHa tho? Kamu naksir ya?”,tanya Ela sambil mengejarnya yang sudah sampai kelas.

“Eh, mulut kamu asal njeplak aja nih! Sapa yang naksir? Kamu?”kata Deka ngeles.

Ela diam sebentar. Ia kembali lagi ke tempat kejadian. Mencari orang orang sekenanya. Lalu kembali lagi dengan wajah hampa.

“Lha terus kenapa kamu tadi melongo? Mau masukin lalat ke mulutmu? Laparkah kamu, neng?”tanya Ela.

Deka diam, memperhatikan jam berdentang di kelas mereka. “el, nama cowok itu siapa? Kelas berapa?”.

“Cowok? Siapa? Tadi, yang namanya DenHa? Bilang tho kalau naksir. Dia kakak kelas kita. IPS1”,jawab Ela panjang lebar.

Deka merenung sesaat. Matanya menjadi berkaca kaca,”El, aku ke kamar mandi dulu ya”,katanya terburu buru.

“Ela yang sedang berbincang dengan teman lain tak medengar apa yang dikata Deka. Tetap dengan keadaannya. Cuek.

Di kamar mandi, Deka sudah nggak kuasai menahan air matanya. Sudah nggak tahu, apa yang harus ia lakukan. Ia menangis sejadi jadinya. Tak memperdulikan bel bunyi yang menandakan pelajaran akan dimulai kembali. Tetap menangis dalam kehancuran seperti dulu.

*******

“Eh., Deka tadi kemana rek?” tanya Ela ke semua orang. Yang ditanya acuh tak acuh. Betul juga sih, kan yang ditanya ‘rek’. Dan di kelasnya nggak ada orang yang namanya ‘rek’. Ia menanyakan ke semua teman temannya. Tapi nggak ada yang tahu. “Waduh, bentar lagi guru Akuntan nih., bisa kena tugas seambrek kalau Deka telat. Kemana sih ni orang”, Ela berkata sendirian. Tetap saja, tak ada yang menghiraukan.

Guru itu telah datang,”Selamat siang anak anak?”.

Beliau mengabsen anak satu persatu. Ketika sampai di nama “Indeka ola Andalasia”. Ia berhenti. “Ini murid baru kan anak anak?”. Tetap seperti prinsip yang dulu. Nggak ada orang yang bernama ‘anak anak’. Sehingga mereka diam. Hingga Ela berkata”Iya bu”.”Silahkan kepada Indeka Ola andalasia Memperkenalkan diri dengan bahasa yang ditentukan teman teman.

Nah, ini dia yang paling dibenci. Setiap orang yang terdengar asing di guru satu ini. Akan disuruh memperkenalkan diri dengan bahasa yang telah ditentukan. Tergantung pada muridnya. Jika milih bahasa jepang. Pakai bahasa jepang. Kalau bahasa Jerman pakai bahasa jerman. Ataupun kalau bahasa Isyarat, itu pun juga bisa. Tak khayal, diwaktu seperti ini, justru dimanfaatkan mereka untuk bergurau. Mempertontonkan orang yang lagi kesusahan J.

Namun, “mana yang namanya indek? Mentang mentang dia sudah jadi indek. Bisa jadi buku indek untuk kawan kawannya. Di saat pelajaran yang nggak butuh indek, dia nggak ada!”, marahnya naik. Beliau memandang tajam Ela. Meminta jawaban yang memuaskan darinya.

“saya pun juga tidak tahu dia ada dimana bu. Saya sudah mencari sampai ke ujung jabalkat”Ela terdiam sesaat,”Bolehkah saya ke kamar mandi sebentar?”.

Wajah beliau memerah. Menahan marah yang mungkin akan melledak sekuat bom atom. Tapi ia mengambil napas. Dan berkata,”Anak anak. Tunggu disini. Saya akan mengantarkan Ela ke kamar mandi. Ayo Ela”. Ela terpaku sejenak, dalam hatinya,”Jiah, rencananya mau nyari lu Deka. Aku yang kepancing ni guru. Heeh”.

Ketika mereka sampai di kamar mandi,”Dekaaaaaaaa”,Ela berteriak sekencang kencangnya. Di depan wajahnya terlihat Deka yang sedang pingsan, lemah, lunglai. Dan pelajaran akuntan itu break di hari ini. Karena Deka.

*******

“Ka, kamu kenapa sih? Tuh, mata kamu sembab. Habis nangis ya?”, tanya Ela iba.

Deka terdiam sesaat. Mencoba mengingat apa yan telah ia rasakan. Tapi pikirannya terlalu lelah. Hanya ada dalam samar samar. Dan waktu itu, untuk kedua kalinya. DenHa lewat di depan UKS.

Deka tak dapatkan mengedipkan mata kesekian kalinya sampai DenHa tidak ada dalam pandangannya. Tidak tahu apa yang dikata, dengan lemasnya ia berkata,”El, antar aku pulang. Aku kurang enak badan”. Dalam hitungan menit, mereka telah sampai di rumah Deka. Dan Ela kembali ke sekolah.

********

“Pagi semua?”Deka kembali ceria di keesokan harinya. Teman temannya menyambutnya dengan senyuman, Gimana tidak, Deka menyelematkannya untuk tidak pelajaran akuntan. Otomatis, tugas tidak akan mengalir pada mereka.”El, pinjam hp kamu!”. Ela sekali lagi acuh tak acuh, mencoba merumuskan apa yang di dalam benak pikiran teman yang di ajak bicara sebelumnya.

Deka tersenyum semple ketika membuka hp Ela. Dan mengembalikan segera kepada pemiliknya. Cepat cepat ia membuka hpnya, mengetikkan sesuatu. Dan Berjalan menuju pintu kelas.

Ela tersadar Deka sudah tidak ada didekatnya. Dan ia menghampirinya.

“Ka, nungguin sapa di depan? Udah ada gebetan ya?”kata Ela sekenanya.

“Selalu kamu ngaco. Entar sepulang sekolah jangan pulang dulu ya el. Ada yan mau aku biacarakan”. Kata Deka dan berlalu kembali ke tempat duduknya.

******

“udah, mau ngomong apa neng? Tadi waktu istirahat kan bisa. Kenapa sembunyi sembunyi”, kata Ela dengan semangatnya.

Deka terdiam sesaat, tidak tahu dari mana yang harus ia katakan. Ketika ia sudah menemukannya. Ia menghembuskan naps, dan berkata,”Aku dapat nomornya kak Den-Ha lho!”.

“Den-Ha.. den-ha. DenHa say.. dipanggil DENA. Tulisannya Den-Ha!”

“Iyo iyo., sak karepmu. Yang penting itu namanya”.

“Whuih, dapat dari mana Ka? Habis bertapa kemarin di kamar mandi ya?”tanya Ela jail.

Deka cemberut. Kesal dengan orang yang akan diajak kerjasama ini. Diam. Lalu mengambil tas, dan…”Eh non, mau pulang? Ok.. ok.. maaf. Kamudapat itu nomor darimana?”tanya Ela dengan lembut.

“itu nggak penting. Bantuin aku ya, aku ingin tahu lebih banyak tentangnya.

Lalu dimulai dari itu ia datang lagi. Seseorang yang amat berarti buat Deka. Seseorang yang paling penting untuk Deka setelah Allah dan rosulnya. Dan seseorang yang akan membantunya tuk mengingat masa pahitnya yang sebenarnya akan dia pendam sedalam dalamnya. Tapi sekarang akan dia korek sedikit demi sedikit. Hingga keluarlah siapa ia sebenarnya.




Ku haruskah mengenyam masa lalu itu lagi?

0 komentar

“jeglek.., mirip banget tu anak ma pacar gue yang lama ya”, batinnya dalam hati. Ketika ia mengammati DenHa. Tanpa ia sadari, ia melongo sendirian. Untung nggak ada yang perhatikan ia.

Ya., maklum, dia pindahan dari SMA 2. Itu pun dengan terpaksa ia ke sekolah ini dikarenakan masa lalunya yang pahit.

“Ada pa ka?” tanya teman sebangkunya.Ela . Ia kelabakan. Tidak tahu harus berkata apa. Diam. Lalu begitu saja meninggalkan temannya. Ela celingukan mencari sumber sumbernya. Mencari rumus rumusnya. Maklum, terlalu pandai ia dalam Fisika. Sehingga segala kegiatannya diwarnai dengan rumus. Rumus. Dan rumus.

“Ooh, si DenHa tho? Kamu naksir ya?”,tanya Ela sambil mengejarnya yang sudah sampai kelas.

“Eh, mulut kamu asal njeplak aja nih! Sapa yang naksir? Kamu?”kata Deka ngeles.

Ela diam sebentar. Ia kembali lagi ke tempat kejadian. Mencari orang orang sekenanya. Lalu kembali lagi dengan wajah hampa.

“Lha terus kenapa kamu tadi melongo? Mau masukin lalat ke mulutmu? Laparkah kamu, neng?”tanya Ela.

Deka diam, memperhatikan jam berdentang di kelas mereka. “el, nama cowok itu siapa? Kelas berapa?”.

“Cowok? Siapa? Tadi, yang namanya DenHa? Bilang tho kalau naksir. Dia kakak kelas kita. IPS1”,jawab Ela panjang lebar.

Deka merenung sesaat. Matanya menjadi berkaca kaca,”El, aku ke kamar mandi dulu ya”,katanya terburu buru.

“Ela yang sedang berbincang dengan teman lain tak medengar apa yang dikata Deka. Tetap dengan keadaannya. Cuek.

Di kamar mandi, Deka sudah nggak kuasai menahan air matanya. Sudah nggak tahu, apa yang harus ia lakukan. Ia menangis sejadi jadinya. Tak memperdulikan bel bunyi yang menandakan pelajaran akan dimulai kembali. Tetap menangis dalam kehancuran seperti dulu.

*******

“Eh., Deka tadi kemana rek?” tanya Ela ke semua orang. Yang ditanya acuh tak acuh. Betul juga sih, kan yang ditanya ‘rek’. Dan di kelasnya nggak ada orang yang namanya ‘rek’. Ia menanyakan ke semua teman temannya. Tapi nggak ada yang tahu. “Waduh, bentar lagi guru Akuntan nih., bisa kena tugas seambrek kalau Deka telat. Kemana sih ni orang”, Ela berkata sendirian. Tetap saja, tak ada yang menghiraukan.

Guru itu telah datang,”Selamat siang anak anak?”.

Beliau mengabsen anak satu persatu. Ketika sampai di nama “Indeka ola Andalasia”. Ia berhenti. “Ini murid baru kan anak anak?”. Tetap seperti prinsip yang dulu. Nggak ada orang yang bernama ‘anak anak’. Sehingga mereka diam. Hingga Ela berkata”Iya bu”.”Silahkan kepada Indeka Ola andalasia Memperkenalkan diri dengan bahasa yang ditentukan teman teman.

Nah, ini dia yang paling dibenci. Setiap orang yang terdengar asing di guru satu ini. Akan disuruh memperkenalkan diri dengan bahasa yang telah ditentukan. Tergantung pada muridnya. Jika milih bahasa jepang. Pakai bahasa jepang. Kalau bahasa Jerman pakai bahasa jerman. Ataupun kalau bahasa Isyarat, itu pun juga bisa. Tak khayal, diwaktu seperti ini, justru dimanfaatkan mereka untuk bergurau. Mempertontonkan orang yang lagi kesusahan J.

Namun, “mana yang namanya indek? Mentang mentang dia sudah jadi indek. Bisa jadi buku indek untuk kawan kawannya. Di saat pelajaran yang nggak butuh indek, dia nggak ada!”, marahnya naik. Beliau memandang tajam Ela. Meminta jawaban yang memuaskan darinya.

“saya pun juga tidak tahu dia ada dimana bu. Saya sudah mencari sampai ke ujung jabalkat”Ela terdiam sesaat,”Bolehkah saya ke kamar mandi sebentar?”.

Wajah beliau memerah. Menahan marah yang mungkin akan melledak sekuat bom atom. Tapi ia mengambil napas. Dan berkata,”Anak anak. Tunggu disini. Saya akan mengantarkan Ela ke kamar mandi. Ayo Ela”. Ela terpaku sejenak, dalam hatinya,”Jiah, rencananya mau nyari lu Deka. Aku yang kepancing ni guru. Heeh”.

Ketika mereka sampai di kamar mandi,”Dekaaaaaaaa”,Ela berteriak sekencang kencangnya. Di depan wajahnya terlihat Deka yang sedang pingsan, lemah, lunglai. Dan pelajaran akuntan itu break di hari ini. Karena Deka.

*******

“Ka, kamu kenapa sih? Tuh, mata kamu sembab. Habis nangis ya?”, tanya Ela iba.

Deka terdiam sesaat. Mencoba mengingat apa yan telah ia rasakan. Tapi pikirannya terlalu lelah. Hanya ada dalam samar samar. Dan waktu itu, untuk kedua kalinya. DenHa lewat di depan UKS.

Deka tak dapatkan mengedipkan mata kesekian kalinya sampai DenHa tidak ada dalam pandangannya. Tidak tahu apa yang dikata, dengan lemasnya ia berkata,”El, antar aku pulang. Aku kurang enak badan”. Dalam hitungan menit, mereka telah sampai di rumah Deka. Dan Ela kembali ke sekolah.

********

“Pagi semua?”Deka kembali ceria di keesokan harinya. Teman temannya menyambutnya dengan senyuman, Gimana tidak, Deka menyelematkannya untuk tidak pelajaran akuntan. Otomatis, tugas tidak akan mengalir pada mereka.”El, pinjam hp kamu!”. Ela sekali lagi acuh tak acuh, mencoba merumuskan apa yang di dalam benak pikiran teman yang di ajak bicara sebelumnya.

Deka tersenyum semple ketika membuka hp Ela. Dan mengembalikan segera kepada pemiliknya. Cepat cepat ia membuka hpnya, mengetikkan sesuatu. Dan Berjalan menuju pintu kelas.

Ela tersadar Deka sudah tidak ada didekatnya. Dan ia menghampirinya.

“Ka, nungguin sapa di depan? Udah ada gebetan ya?”kata Ela sekenanya.

“Selalu kamu ngaco. Entar sepulang sekolah jangan pulang dulu ya el. Ada yan mau aku biacarakan”. Kata Deka dan berlalu kembali ke tempat duduknya.

******

“udah, mau ngomong apa neng? Tadi waktu istirahat kan bisa. Kenapa sembunyi sembunyi”, kata Ela dengan semangatnya.

Deka terdiam sesaat, tidak tahu dari mana yang harus ia katakan. Ketika ia sudah menemukannya. Ia menghembuskan naps, dan berkata,”Aku dapat nomornya kak Den-Ha lho!”.

“Den-Ha.. den-ha. DenHa say.. dipanggil DENA. Tulisannya Den-Ha!”

“Iyo iyo., sak karepmu. Yang penting itu namanya”.

“Whuih, dapat dari mana Ka? Habis bertapa kemarin di kamar mandi ya?”tanya Ela jail.

Deka cemberut. Kesal dengan orang yang akan diajak kerjasama ini. Diam. Lalu mengambil tas, dan…”Eh non, mau pulang? Ok.. ok.. maaf. Kamudapat itu nomor darimana?”tanya Ela dengan lembut.

“itu nggak penting. Bantuin aku ya, aku ingin tahu lebih banyak tentangnya.

Lalu dimulai dari itu ia datang lagi. Seseorang yang amat berarti buat Deka. Seseorang yang paling penting untuk Deka setelah Allah dan rosulnya. Dan seseorang yang akan membantunya tuk mengingat masa pahitnya yang sebenarnya akan dia pendam sedalam dalamnya. Tapi sekarang akan dia korek sedikit demi sedikit. Hingga keluarlah siapa ia sebenarnya.




My activities

style='overflow:auto; height:200px'>