Senin, 30 November 2009

FIRASAT ITU….

1 komentar
Hari indah telah di depan mata, hatinya sejuk sesegar es kelapa muda, matanya berseri tanda semangat, mulutnya tida henti hentinya berucap lafadz Allah. Ya, dia sangat bahagia sekali, karena Idul Adha segera di depan mata. Suatu hari bersejarah bagi kaum islam, yang telah menorehkan tinta emas, dan telah dijadikan salah satu hari raya besar dalam Islam.

Tidak hanya itu! Yang lebih membuatnya semangat siang malam, ia dapat berkurban, walaupun hidupnya berkecukupun. Sudah jauh jauh hari, ia meligkari tanggal ini di kalender buntutnya. Dan sekarang, kalian tahu? Besok adalah hari yang cantik secantik kupu kupu keluar dari kepompongnya.

“Kak, besuk jadi kurban nggak sih? Kok kambingnya belum diantar kesini?”,kata adikya, Dewi.

“ya jadilah, mungkin akan diantar besuk kali!”.

“Lho kak, memangnya si tukang kambing nggak solat Ied?”,

“Wah, betul juga kamu, trus gimana dik?”,

“coba dech, kak Ana telepon kembali si tukang kambing! Atau kita kesana saja!”,

“Biar nggak terlalu rumit, kakak kesana aja, tapi kamu di rumah aja ya? Takut kalau kalau ada tamu, rumah sepi kasihan tamunya!”,

“Oke kak, kalau gitu cepat berangkat kak, sudah pukul setengah lima, nanti kemaghriban di jalan loh!”.

“Ya dik, kakak berangkat dulu ya, Assalamualaikum”,

“Walaikumsalam”.

Dengan sekejap Ana meninggalkan gubuk reyot satu satunya peninggalan orang tuanya yang telah meninggal satu tahun silam.

Sesampai disana bau amis di mana mana,ada sesuatu yang ganjal di hatinya, tapi ia buang jauh jauh perasaan itu, ‘tak boleh suudzan’katanya dalam hati.

“Permisi pak, 2 minggu yang lalu saya telah memesan 1 kambing atas nama Ana yang akan diantar ke rumah saya sekarang, apa telah dikirim pak?”, Tanya Ana.

“Ya terimakasih atas komplain anda, khusus bulan ini, kami memberikan perlakuan khusus terhadap pembeli, yaitu pesanan akan dikirim setelah dimasak, karena kami yakin sebagian besar pembeli merasa kerepotan merawat kambing, walaupun hanya 1, 2 hari saja, bagaimana? Apakah anda setuju?”, katanya.

“Saya sangat senang dengan perlakuan bapak, terimakasih atas tawaran bapak”,

“Ini bukan suatu tawaran bu, tapi telah dijadikan ketentuan bagi pmbeli disini!”,

“Baik, saya akan mengikuti ketentuan bapak, lalu apakah pemesan kami dalam keadaan matang dapat dikirim ke rumah kami?”

“Tentu saja, mungkin sekitar pukul 09.00, ya bu?”

“Baik pak, terimakasih”.

Ana keluar dari area kambing, dan cepat cepat menjauh dari area itu, ingin rasanya ia pingsan di tempat mencium bau yang tak sedap.

“Gimana kak, kapan jadi dikirim”,Tanya Dewi ketika Ana tiba di rumah.

Ana pun menceritakan apa yang dibicarakan tadi, ia sedikit menyesal tak dapat melihat kambing itu menemui ajalnya.

“Ya udah kak, itu mungkin lebih baik daripada kita repot repot memasaknya di rumah!”.

“Tapi dik, bukankah daging kurban lebih baik di berikan kepada yang berhak dalam keadaan mentah?”.

“Udahlah kak, sudah terlanjur, yang penting kita bisa membantu fakir miskin.

Malam itu Ana tak dapat tidur, ada firasat buruk yang menggeluti hatinya, lafadz Allah telah ia ucapkan berulang kali, tapi firasat itu tetap tak dapat hilang. Ia menenangkan diri dengan membaca Al Quran, hingga ia tertidur, terlelap dengan alam mimpinya.

Keesokan harinya, firasat itu masih mengelabuhinya, tapi ia pendam sedalam dalamnya, ia berpikir’mungkin itu hanya siasat setan’.

“Kak, udah jangan melamun terus, ayo kita berangkat, jemaah sholat udah pada berangkat”, kata Dewi memecahkan lamuna Ana.

Akhirnya, kedua saudara itu menuju masjid terdekatnya.

Ana semakin yakin bahwa firasat itu hanyalah fiktif, ia tenggelam dalam indahnya Hari raya Idul Adha, semakin ia mengucapkan lafadz Allah, semakin

kusyuk dirinya mengikuti acara Idul Adha, hingga penyembelihan kambing.

“Permisi dik, apa betul ini rumah nona Ana ? ini pesanan kambing atas nama nona Ana”, kata pengirim kambing.

“Ya terima kasih pak, kak Ana sedang berada di masjid menyaksikan penyembelihan kambing”.

“Sama sama”.

Dengan riangnya Ana pulang ke rumah, sesampai di rumah.

“Kak, kambingnya sudah dikirim, kapan nih mau dibagikan ke fakir miskin ?”, kata Dewi.

“Iya, yang sabar dong dik! Kakak mau ganti baju dulu! kamu kemasi kambingnya, Oke?”.

Ana dan Dewi telah siap, dengan cepat mereka tiba di panti asuhan yang telah mereka rencanakan.

“Terimakasih dik Ana, pasti anak anak senang dengan pemberian adik, tapi maaf saya nggak bisa menemani dik Ana, saya harus pergi ke masjid memantau penyembelihan,”,kata Bu Diana, pemilik panti asuhan.

“Ya, nggak papa bu”,jawab Ana.

Sekarang tinggal Ana yang duduk di ruang tamu, Dewi telah menghambur dengan anak anak panti asuhan yang akan menyantap gulai dan sate kambing. Ruang tamu itu hanyalah kecil, hanya ada 3 sofa panjang, meja kecil, beserta Koran kecil di atas meja.

Dengan rasa penasaran akan berita hari ini, Ana mengambil Koran itu, dan membaca, tiba tiba…..

“Astaghfirullahaladim, tidak!!!!!!!!!! Nggak mungkin,”jerit Ana,”Aku harus mencegah teman teman,ya……”.

Dengan berlari lari kecil, ia menuju ruang makan, rasa cemas, takut, marah, sesal bercampur menjadi satu.

“Dik, jangan dimakan!!!!!!!!!!”, jerit Ana

Hampir saja mereka melahap makanan itu, hanya tinggal beberapa senti saja.

“Ah, kakak buat kita kaget aja, emangnya kenapa?, kata Dewi sambil mendekati Ana.

“Baca ini dik!”, jawab Ana dengan menyodorkan Koran yang baru ia baca.

Dengan rasa penasaran Dewi membuka Koran itu lalu membacanya“Kak, bukankah tempat ini tempat dimana kita membeli kambing ini? Bukankah nama ini nama pemilik kambing yang baru kita beli?Jadi ini hewan berpenyakit kakak?”.

Ana hanya bisa mengangguk dan meneteskan air mata.

“Ya dik, itu hewan sakit, hewan itu mengidap penyakit Antrax, dan pastinya akan semakin menyengsarakan teman teman, sekarang kita harus bagaimana dik?”.

“Kak, emangnya ada apa dengan masakan ini, kita nggak boleh makan ya kak karena kita anak nakal ya kak?kita nggak berhak makan ini ya kak, ya udah teman teman, kita ke kamar aja, maafin kita kak!”, kata suara imutnya Mira.

“Bukan itu dik, kalian anak baik, tapi bukan saatnya kalian makan masakan kambing busuk ini!”.

“udahlah kak, kita mengerti kok!”.

Dengan rasa menyesal, air mata Ana semakin meleleh, hanya sesal sesal.

“Sudah lama dik aku curiga kepada hewan hewan miliknya, sedah lama aku simpan kecurigaan itu, kenapa aku mau saja ditipu daya oleh mereka? Kenapa aku sebodoh ini?”, jerit Ana.

“Sudahlah kak, toh itu semua telah terlanjur, kita hanya bisa mengambil hikmahnya”, kata Dewi menenangkan Ana.

Terdengar suara Bu Diana mengucapkan salam, hati Ana semakin dag dig dug, merasa bersalah karena ia telah menghancurkan hari kebahagiaan ini.

“Ana, anak anak kemana? Kenapa kamu menangis?”,kata BU Diana cemas.

Dengan hati yang berkecamuk, Ana menceritakan apa yang telah terjadi, berkali kali ia mengucapkan sesal.

“Astaghfirullah, lalu apakah anak anak telah memakannya?”, sela Bu Diana

“Alhamdulilah, tidak bu, tapi tetap saja, saya telah mengacaukan hari indah ini! Saya telah memutuskan talisilahturahmi ini, saya ini ceroboh bu, saya bodoh bu!”, sesal Ana.

“Istighfar Ana, semua itu diluar rencana kita, tanpa kita sengaja, mungkin itu telah digariskan oleh Allah, mungkin Allah hanya menguji ketabahanmu, menguji keikhlasanmu, kalau toh ini telah terjadi, biarlah berlalu, tinggal kita mangambil hikmahnya!”.

Bu Diana menuju kamar anak panti asuhan untuk memberi tahu mereka, sementara itu Dewi menenangkan hati Ana.

“Kak, maafkan kita telah salah paham!”, kata anak anak panti asuhan serentak.

Senyum mengembang di bibir Ana, hatinya kembali berbunga bunga, senang ia rasakan mendengar permintamaafan adik adik kecil kian imut itu.

“Iya dik, kakak sudah memaafkan kalian kok, memang kakak yang bersalah”, balas Ana sambil menoleh Dewi, tapi Dewinya melotot.

“Baiklah, kalau toh nggak ada gulai dan sate, kita kan masih punya lontong, dan tinggal membeli sayur lodeh, pasti nikmat!”, kata Bu Diana.

Akhirnya mereka makan bersama sama, rasa senang telah tergambar cukup jelas di wajah mereka, rasa sesal telah hilang di hati mereka.

“Meskipun sesuatu yang kurencanakan itu sirna, tapi Allah memberikan yang lebih indah untuk kita, hari ini tetaplah hari yang terindah selama hidup aku jalani, Indah dan Indah”, desis Ana dengan hati yang semakin berbunga bunga, dengan mengucapkan kalimat Allah berulang ulang kali.



Rabu, 25 November 2009

Kalau lagi kesal

0 komentar

I hate it
Ranti, terlalu posesif kah engkau?? iya kah??
Ok.. lah.. ranti posesif.. tapi memangnya g boleh?? dia emang hanya idola aku. aku amat sangat g berpengaruh untuknya. tapi aku benci. ah, pokonya aku benci.. aku g ngerti mau bilang apa..
Tadi udah menunggu banget. sekarang ia menjengkelkan.. dilain pihak, dia emang adil ma fansnya. tapi untuk suatu hal,, nggak. tapi dia salah menaruh tempatnya..!
Odonk





Minggu, 22 November 2009

Puisi tanpa judul

0 komentar
dulu 'dia' hanya ulat yang sekilas tampak tak berarti,
kini wujudnya berubah menjadi kupu kupu indah,
terbang semakin tinggi.
seperti lupa kembali hinggap diranting pohon dimana dulu dia sering bersandar semakin tinggi,
tak lagi dilihatnya bunga yang pernah dia hisap madunya.
kupu kupu hitam, terbanglah tinggi jangan biarkan sayapmu tergores dan terluka
agar semua mata terus dpw mengagumi indah wujuudmu kini.
acuhkan, biarkan bunga itu layu dan ranting ranting itu kering dan patah

Request dari teman ..


Jumat, 20 November 2009

NEVER EVER GIVE UP

0 komentar

Jalannya semakin layu, seperti peribahasa dalam bahasa jawa“macan kaliren”. Pelan sekali, Menunjukkan ia telah gerah dan sangat lelah. Dia yang selalu semangat, tomboy. Tapi sekarang amat sangat lemah. Namun tiba tiba “Whoi! Hati hati kalau jalan donk! Mata tuh taruh disini bukan di dengkul”katanya sambil menunjuk nunjuk mata lawan yang diajak bicara. Itulah Ola sesungguhnya. Tomboy, bersemangat, kata katanya amat kasar. Tapi selalu. Di balik keburukan ada kebaikan seseorang, bukan?!

“Maaf, aku tergesa gesa” Sambil ia bangun di tempat ia jatuh dari tabrakan dengan Ola. Maklum, sifatnya yang tomboy, membentuk tububhnya besar dan kuat.

“Ya sudah, pergi sana. Tapi ingat! Besok jam seperti sekarang, kamu harus kesini lagi. Kita harus adakan kompenisasi!” yang diajak bicara hanya mengangguk dan berlalu dengan kecepatan ekstra seperti sebelumnya”Helloh? Nggak sopan banget sih! Mentang mentang lebih tua dari aku. Anak kecil juga punya hak!”gerutunya sambil mengait umur orang tersebut. Yah, kira kira ia sudah berkepala dua. Kurang lebih 25an.

Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Di jam, menit, detik yang sama. Diana memulai pembicaraan“Dek, maaf, kemarin aku menabrakmu…”,”Eh, maaf ya.. jangan panggil aku dek, panggil aku Ola aja!” potongnya masih tetap jutek dengan masih keadaan dominannnya.

“Ya, maaf Ola, kemarin aku menabrakmu karena tergesa gesa. Aku dipanggil ma Bosku. Dia lagi marah besar. Yah, walaupun aku tahu, aku tak bermasalah dengannya. Tapi setidaknya aku adalah karyawannya. Dan dia kalau marah. Amat menakutkan. Tahu sendirikan, gimana kalau orang yang amat ramah. Tapi, karena suatu hal yang amat sangat baginya penting dilecehkan orang lain, dan ia menjadi marah. Marah yang amat sangat menakutkan”.”Mana ku tahu, aku tak tahu kamu, mana pula kutahu tentang bosmu!”jawabnya dengan ketus. Lalu ia berjalan meninggalkannya.

“Ya Sudahlah. Apa kompenisasinya. Sebagai ganti ruginya. Sebenarnya, aku yang rugi. Aku yang terjatuh”katanya dengan mengikuti Ola. Namun yang ditanya hanya terpantung, wajahnya memunculkan keceriaan. Tertarik dengan suatu hal. Ia mendekat lalu berseru”Oh my god. Kak. Gila, tuh bola keren banget! Dengan desainnya plus warna kesukaanku”. “Bola yang warna ungu itu. Baiklah, akan aku antar masuk”. Jawabnya pasrah.

“Setelah diambilnya bola tersebut. Lalu Ola ke kasir, dan Diana menunggu di depan kasir.”Dek, harganya dua ratus ribu”. Dengan sombongnya, Ola mengeluarkan dompet kesayangannya. Tetap dengan warna yang sama. Warna ungu. Lalu ia keluarkan semua jumlah uang yang ia miliki. Namun ‘deg’. Kurang 50ribu. “Mbak, saya ke kamar mandi dulu ya” katanya sekenanya. Si kasir hanya mengangguk pelan. Disaat ia lengah. “Maling! Maling! Dia belum bayar barangnya”” teriaknya. Ola hanya mencoba berlari kencang. Tapi dengan membawa serta Diana. Tapi Diana hanya bisa meronta ronta masih tak mengerti apa yang Ola lakukan karena ia tidak bersamanya beberapa detik yang lalu.

Dan akhirnya, “Diana, kamu adalah karyawan di tempat ini. Mengapa anak ini kau ajarkan buat mencuri barang yang seharusnya kamu jaga juga? Apa yang ada dipikiranmu. Apa maumu? Karena aku kemarin memarahimu. Memakimu pula. Dan kamu ingin membalas dendam atas ketidak bersalahanmu?”Bentak bos Diana. “Oh, jadi kak Diana kerja disini? Bodoh kau!”kata ola memandang Diana,”Sorry pak, kak Diana tak tahu apa apa. Dengan gampangnya, dengan pahitnya anda berbicara seperti itu. Anda fikir anda lebih hebat dari kak Diana? Anda fikir, karena anda adalah BOS di tempat ini, anda memaki maki kak Diana yang sebenarnya tak bersalah. Anda kambing hitamkan? Ternyata salah kata kata dari kak Diana. Dia fikir, anda orangnya ramah. Baik. Jarang marah. Tapi Karena hal ini. Hal yang belum anda ketahui secara pasti. Anda memarahi kak Diana sekenanya!”.

“Sudahlah Ola, aku tahu aku yang salah”Diana menyeka air matanya, lalu mengeluarkan uang sekenanya”Ini barang yang saya beli tadi. Dan ini uang yang anda perdebatkan. Lebih baik saya keluar dari sini”. Ola hanya diam melihat reaksi Diana. Ia ikut keluar dengan Diana. Dan mereka telah sampai di kedai minuman.

Mereka terdiam. Terdiam satu sama lain. Tak ada suara apapun keluar dari mulut mereka. Hanya ada bisingan kecil dari luartempat mereka. Dengan desiran air terjun buatan dari luar kedai.

“Kak, maafkan aku. Gara gara aku, kakak keluar dari tempat kerja kakak”, kata Ola ragu ragu. “Ya sudahlah. Nggak papa Ola. Memang, lebih baik aku ditakdirkan untuk keluar dari tempat itu. Aku sudah benar benar risih disana. Aku nggak ngerti apa yang ada dalam fikiran orang orang di dalamnya. Hanya masalah sepele, uang 500ribu. Mereka pada memfitnah. Aku sudah nggak tahan ada disana. Mereka nggak tahu, masalah aku bukan hanya bersama dengna mereka. Tapi ada masalah lebih berat yang ada dalam kehidupanku. Kehidupan keluaargaku. Ini benar benar membuatku depresi. Diam tak menentu”jawab Diana seraya menangis sesenggukan. “Maaf sekali lagi kak, mungkin kakak bisa ceritakan kepadaku. Apa yang ada dalam masalah kakak. Mungkin aku bisa membantu kakak. Yah, meski aku anak kecil. Tapi, mungkin kakak bisa membagi problem ini”Dengan katanya yang amat lembut. Lebih lembut dari gadis gadis keratin yang ada. Yah, mungkin itu kelebihan. Amat peka.

Diana mengambil napas sebentar, memandang sayu sayu bunga di depan kedai. Ia tersenyum sebentar. Lalu ia berkata“Mungkin kamu akan membenciku jika ku ceritakan semuanya.

Sejak 5 tahun yang lalu. Aku hanyalah gadis yang ceria. Tanpa beban. Masih merengkuh kuliah yang aku bangga banggakan. Jurusan Informatika. Tapi, dibalik itu, ketika malam itu tiba, seperti biasa. Aku kencan dengan pacarku. Sebegitu bodohnya kita. Hingga kita melakukan sesuatu yang tak wajar. Satu bulan kemudian. Kita putus karena orang tuaku tak menyetujuinya. Tapi…”Diana menangis lagi sesenggukan. Ia tak mampu melanjutkan kata katanya. Tak kuasa ia bercerita lagi,”Kakak minum dulu yah”kata Ola menyodorkan minuman yang diberikan oleh pelayan.

“dua tahun kemudian, anak kita telah tumbuh. Tumbuh. Sangat cantik. Imut. Selalu ia bertanya Tanya kepadaku,’mah, papah kemana?’. Hatiku aku benar benar teriris. Mendengar suaranya yang lucu, yang polos. Aku tak tega mengatakan semua apa yang terjadi”. Diliriknya daun daun yang berguguran di depan kedaii tersebut. Ia merenunng sesaat. DIam tak berujung. 10 menit kemudian”Lalu, bos itu! Bos yang baru sja akau bentak. Bos yang baru saja memarahi aku. Yang baru saja berkonflik dengan kita adalah papa dari anak itu!”. Ola tersedak dalam minumnya.”Mungkin kamu akan tidak percaya dengan hal ini. Tapi ini benar benar real. 4 tahun setelah anak aku tumbuh. Aku diterima bekerja di mall itu. Tapi aku baru tahu dia yang menjadi kepala mall setelah 10 hari kemudian. Dia yang terlalu baik denganku waktu itu. Dia yang selalu menjadii pahlawan kesianganku. Tapi aku jutek dengannya. Karena rasa sakit ini. Dan aku telah melupakannya”.”Kenapa kakak tak sampaikan tentang anak kakak? Dia juga butuh hak untuk mendapatkan papa!”,sela Ola.”Belum selesai odonk! Lalu, 10 hari kemudian, aku berbicara dengannya empat mata. Aku ceritakn segalanya. Aku ceritakan kalau aku tak lulus informatika demi anak kita! HANYA ANAK KITA!”.”Cowok busuk! PAsti dia hanya diam saja” sela Ola lagi. “Ya, mungkin satu dua kali dalam sehari dia hanya menanyai keadaan anak kita. Tapi aku tak bilang ke anak kita kalau dia papanya. Aku tak mau kembali dengannya”.”Ya, mungkin kakak lebih baik keluar dari tempat itu. Mungkin kakak bisa carikan papa yang lalin untuk anak kakak. Mati satu tumbuh seribu! Caiyoo kak! Semangat! Never ever give up dalam hidupmu! Mungkin kakak bisa bekerja di perusahaan papa aku. Lumayan dalam membantu kehidupan anak kakak dan kakak sendiri”kata Ola iba. “Trimakasih ya Ola. Aku benar udah lega. Bisa ceritakan semua ini, tolong keep yah! Aku percaya banget kamu bisa keep ini”,kata Diana sambil menyeka air matanya.”Ehm, kakak percaya banget aku bisa keep? Kita kan baru saja bertemu. Hanya satu kali”.”Aku mengerti karakter seseorang. Aku mengerti tentang sifat kamu. Aku percaya kamu bisa keep semua ini. Sejak kita bertemu diawal. Aku hanya terdiam, karena mungkin, aku bisa tumpahin semua ini kepadamu. Jangan buat aku ragu akan kepercayaan ini ya, Ola!”.Ola hanya mengacungkan jempol dan berkata”Oke!”. Mereka tersenym bersama. Tanpa sengaja, mereka tertawa. Tertawa fakultatif. Dan bermula dari itulah persahabatan mereka. Sahabat yang fakultatii pula. Suatu hal yang tak wajar, bukan?




tak da judul

0 komentar

“Huh, kesel. Kesel. Kesel. Dia terus, dia terus yang diomongin. Aku dikemanakan? Dikacangin?”dengusnya dengan kesal. Ia memberontak memberontak. Menonjok nonjok bangku yang ia duduki. Sambil ia membuka buku pelajarannya. Tapi ia malah mencoret coret buku dengan sekenanya,”Apa itu namanyua sahabat? Apa sih maksudnya cowok dalam hidup cewek? Nothing! Cuman bis anyakiti doank!”, gerutunya.

Ada apa sih nin, kayak orang gila aja”,Tanya rio. “Diam kamu! Gak penting buat cowok!”jawab Nina. “Buku mah dibaca atu neng, bukan untuk dicoret coret. BUku sekolahan atuh!”komentar Rio.”Bawel deh! Gak butuh nasehat kamu!”Bentak Nina lalu meninggalkan Rio ke kamar mandi.

Di tengah jalan ia menemukan Ana duduk bersama dengan Ferry,”Heeh, cowok lagi cowok lagi. Ya sudahlah, kamu emang bukan sahabata aku”, batin Nina.

Tanpa ia sadari,”Oi mbak, kalau jalan jangan ngalamun, hayo, nglamun sapa tuuh??”goda Ira. Emosi Nina kendor sebentar. Menepi, duduk sebentar di bawah pohon. Ira mengikutinya.

Ada apa sih. Kayak tukang tukang sopir aja demo minta BBM diturunkan”Tanya Iradengan penasaran. Yang ditanya hanya memandang sahabatnya, Ana. Sambil menggerutu tak jelas. Ira, yang tahu teman dekatnya benar benar kesal tak lagi bercanda. Ia hembuskan nafasnya sebentar, dan bertanya penuh kelembutan,”Ada apa Nin? Lagi ada masalah yah? Maaf banget. Aku nggak ngerti”. “Nggak juga, cuman kesal ma Ana aja, TUh liat. Dia ngekor Ferry mulu. Aku? Yang sahabatnya dari dulu dikacangin. Tadi aku lewat aja tanpa ia sapa!”gerutu Nina fakultatif (bahasa dalam biologi yang artinya nggak jelas). Yang dicurhatin malah ketawa ngakak. Tertawa. Tertawa. Dan tertawa tanpa henti. “Kenapa kamu malah ketawa? Ada yang lucu, neng?”Tanya Nina jutek.

“Nina, nina. Dengerin bunda berkata…”,”eh, bunda dari hongkong, nggak sudi kau jadi bunda aku”. Mereka diam sebentar. Lalu tertawa bersama. Tertawa yang fakultatif. Tiba tiba saja tertawa kan? Hahaha. Suasana telah mencair.”Nin, semua remaja juga akan dan pernah jatuh cinta kan?”.”Tapi nggak gitu caranya, dia boleh jatuh cinta. Aku tahu. Tapi nggak usah pakai acara kacang rebus, kacang rebus segala”,gerutu Nina sambil praktekin penjual di bis bis. “haha. Gayamu Nin! Mendukung banget. Calon Ahliwan tukang kacang”. Yang diketawain hanya manyun. “Tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini. Begitu juga dengan ini nin! Mungkin, Ana lagi jatuh cinta dengan Ferry. Lagi bersemangat semangatnya. Tapi dia tetap jadi sahabat kamu koq! Seseorang akan mendapat jatah porsi yang sesuai untuk masing masingnya…”,”jatah porsi! Makan siang kali! Buat lapar orang”sela Nina.”Diam dulu, dengerin aku neng! Mungkin hari ini dia lagi bersama dengan Ferry, tapi dia akan selalu membutuhkanmu. Kamu tahu arti persahabatan? Bukan kita meminta ini itu kesahabat kita, tapi upaya kita untuk memberi dia berbagai hal. Sahabat yang terbaik adalah yang bermanfaat besar untuk sahabatnya”.

“Bermanfaat besar? Berarti sahabat hanyalah bos untuk para dayang dayangnya? Yang seperti kita….”Ucapan Nina terhenti, di depannya muncul sosok Ana dengan senyum emngembang. “Udah ah ra, panas lama lama disini”kata Nina jutek sambil berjalan menuju kelas. Dalam kelas benar benar gaduh. Membuat Nina semakin marah besar. Apalagi dengan godaan dari Rio. Lalu ia memojokkan diri. Dan merenung sesaat.

Ada apa dengan Nina? Tumben jutek?”Tanya Ana penuh keheranan. “Say, kemana Ferry?”balik Tanya ria.”Ditanya malah balik Tanya. Dia dah hilang ditelan bumi. Tahu nggak? Malam minggu besok aku mau kencan pertama ama dia. Uhuy, jadi nggak sabar nih”.”Lalu acara mingguan kita, kita pending nih?Yah, Nina pasti ngambek lagi”.kesal Ira. “Nina ngambek? Kenapa? Gara gara aku ya? Ra, kasih tahu aku dong, ada apa yang sesungguhnya”pinta Ana. “Bukan gara gara kamu koq. Tapi sikap kamu yang sedikit berubah. Dia merasa dia taka da gunanya untuk kamu lagi. Karena kamu udah milik Ferry”,jawab Ira jutek. “Lho koq kamu ikutan jutek pula? Yah, maaf ya. Waduh gimana nih, aku jadi bingung. Ira, maafin aku yah!”.yang diajak bicara malah tersenyum penuh kemenangan. Usil. Bercanda yang ia lakukan tadi,”haha. Ketipu deh kamu! Mana bisa aku tampang jutek? Berarti acting aku ada peningkatan yah? Haha”.”Sialan nih ira. Kena tipu mulu. Mentang mentang anak teater. Huft”desah Ana.”maaf. Gini aja deh, kamu minta maaf gih ma Nina. Sebelum ia marah besar. Lalu berjalanlah mereka menuju kelas.

Buku yang ia pegang bukan berisi coretan coretan lagi. Telah ia ganti dengan buku lainnya. Namun, buku yang disebelahnya yang ia coretkan tadi, ia tanggalkan Vertical Scroll: Nin, marah ma aku yah? Maaf yah. Aku nggak bermaksud seperti itu. Kamu tetap sahabat aku yang terbaik koq!       Luv u fren   Ana
Di depan kelas, Ana dan Ira terdiam sesaat, kedua bola matanya berputar putar mencari sosok Nina. Lalu mereka berbisik sebentar. Dan masuklah Ira dengan membawa selembar kertas. “Nin, dari Ana”, kata Ira. Dibukanya kertas itu.

Terbesit senyum simpul dari mulutnya. Lalu ia membalas kertas tersebut di baliknya.

Vertical Scroll: KESINI LOE !

Ia remas remas kertas tersebut. Lalu ia berikan ke Ira. Ira yang tahu hanya sebagai burung merpati melakukan tugasnya dengan bijak. Jarak beberapa menit, mereka telah kembali ke dekat Nina.

“Nin, sampai segitunya ya kamu marah denganku? Sampai kamu tak mau maafin aku. Kamu tetap sahabatku koq. Ferry memang cowok aku. Tapi kamu masih yang terbaik. Cuman pada kamu aku berbagi segalanya. Dukaku, sukaku. Hanya padamu. Tapi aku memang keterlaluan ya? Udah acuhkan kamu. Ya udahlha, biar aku pending dulu kencanku dengan Ferry malam minggu nanti…”kata Ana panjang lebar sambil membuka HP untuk memulai panggilan ke Ferry. “Wait! Wait! Kamu mau malam mingguan? Dengan Ferry? What? Asyik tuh Na! kenapa kamu pending! Nggak sampai segitunya lah! Hahaha J”Sela Nina. Ana dan Ira langsung menderu Nina,”Ku kira kau marah besar, neng! Jantungan tahu!”kata Ira sambil mencubit Nina. “Jadi nggak marah ma aku nih?”Tanya Ana. “Ya marah sih, tapi tadi. Aku ngerti koq. Aku cuman takut aja kamu sedih, kamu kecewa karena cowok. Aku udah menjunjung tinggi persahabatan kita. Kamu malah kacangin. Tapi kamu larinya ke cowok. Cowok itu misterius, neng! Bukannya aku menyuruhmu untuk ilfil dengan ferry. Tapi lebih tepatnya hati hati, Jadi apa nggak nih kencannya?”. “Ei, ya jadilah! Tadi aku udah merengek rengek ke mama aku supaya ijinin. Ferry tuh hormat banget ma mama aku tahu! Mau ajak aku kencan, izin dulu ke Mama. Heeh”kata Ana. “Lha gitu atu neng, pada pinter pinter, nggak merengut. Eh neng neng, tadi aku kena bentak ama Nina” kata Rio ikut nimbrung.”. “It is the lady’s discuss. Not for boy!”bentak Nina. Yang dibentak hanya merenggut sambil berlalu. Namun Ira menyeretnya kembali. Mereka tertawa fakultatif lagi. Tapi lambat laun tawa itu penuh arti. Arti persahabatan. Yang tak akan rapuh.




mengawur :)

0 komentar

Hufh.. Mau menceritakan pengalaman pribadi ( ya iyalah. Nama labelnya aj ‘in memoriam’).

Mau dimulai dari mana??!

Yah…

When u’re gone

I no getting spirit

I am so ____

I could’nt breathe comfortly ( bener g??)

Risau

Adalah satu kata mewakili jutaan perasaan ini sekarang

Tatkala kata kata yang ia lontarkan

Senantiasa membuat hati ini berbunga telah hilang

Risau itu makin menjadi jadi

Namun, kini dirundung dilema

Kini tak membutuhkan lagi spirit itu

Namun, kenapa jadi kepikiran yaah?
N I will so sad if they said that I down because it

I will angry.

Oh tuhan, ya allah..

Aku yakin, aku bisa menerjang ini!



Rabu, 18 November 2009

Surat untuk Joemania dan kawan kawan

0 komentar

Surat ini aku tujukan kepada mereka. Mau bilanng lansung di Fb rasanya sungkan, lalu terbesit keinginan mau post blog. Ya udah, aku tujukan kesini. Untuk non tm luverz, g usah baca readmorex yaah!



Vertical Scroll: To my lovely all sahabatku Joemania.  Aku senang banget bisa bertemu dengan kalian (aku g akan memberi satu dua nama orang di surat ini). Aku seneng, kita bisa saling share tentang idola kita. Dari kita kecil abnget wawasannya menjadi super . Karena kita saling share. Hal yang paling aku banggakan hingga sekarang. Aku bisa mempunyai sahabat seperti kalian. Apalagi dengan JSFC. Bagi aku dan trio pikun, kalian dah kita anggap saudara. Hal yang tak mudah memang, mempercayai antara satu dengan orang lain. Tapi entah mengapa. Tiba tiba dengan satu idola, kita bisa seperti sodara. Hingga menghabiskan pulsa berjut2 ( untung aku pakai 3. Lebih murah). Aku seneng, bisa kenalan dengan orang2 ramah desekitar idola kita. Dari saudaranya hingga teman dekat idola kita. Enambah teman bagi aku. Apalagi dengan keramahannya. Aku nyaman nyaman aja. Dan juga di JSFC, amat ramah membernya, disini ku bisa belajar banyak hal. Eh, palagi dengaan idola kita. Pernah kukirim pesan untuk idola kita. Waktu itu, aku coba tuk lepaskan diri darinya. Tapi tetap aja. Kita emang harus bertahap yaah . Isinya “kakak tlah mngajarkan ranti sglax.. bgaimna cra dgx.. cra brshbt. Cra cri tmn. Cra memotivasi. Cra mnghrgai prbdaan. Cra brtman. Tp jg mngjariQ cra brmuka g tegaan (brmuka dua). Smua itu scra tak sngja. Sblumx.. ranti ucapkan thx sbyk2x.. ‘THX xxxxxxxxx’ maybe, I cant forget u.. but, I will handle my fell bout u.. xxxxxx. (tanda xx disensor yaah, hehe) Tapi g direspon! Haha.. Entah ia sibuk, ato emang kesel banget ma aku. Mungkin aku dah di cap sebagai ranti yang sok, ranti yang manja, ranti yang sukanya cari keributan dengannya. Lewat ini, aku katakana minta maaf banget. Tapi, apa kalian tahu? Jika kita udah percaya banget, idola kita adalah segala sesuatu yang amat baik, tak ada sebersit pun yang membuat kita merasa terbodohi. Itu salah besar! Amat salah. Walopun juga, artis sama aja dengan manusia. Manusia seperti kita. Nggak jauh beda. Toh, sama aja, sama sama diciptakan dari tanah, yang beda hanya popularitasnya. Intinya adalah idola kita udah g low profile. Mana idola kita yang kita bangga banggakan? Kita susah payah menulis namanya di buku buku putih kita setiap hari? Kita susah payah mencari segala info tentangnya. Tapi, aku udah kecewa karenanya. Terserah teman teman mau bilang apa. Aku udah g tau harus bagaimana. Aku g bisa bilang “aku g suka idola kita lagi”. Aku g bisa, karena di ati aku udah aku susah payahkan, malah g bisa. Mungkin, ia yang menurut aku udah berubah, emang dari dulu juga kayak gitu. Mungkin pula, dia dah mau terbuka kepada kita? What?? Hehm, sesuai dengan alirannya memang. Sulit kita tebak. Yang buat aku sedih, seakan akan, dia hanya berpura pura menghargai semangat orang lain. Bagaimana dengan grup grup yang kita buat untuknya? Aku udah menyarankan berkali kali, ke semua orang yang aku jumpai. Aku sarankan untuk membuat satu grup dan yang khusus handle idola kita. Semua info ada pada grup itu. Dan grup grup yang kita buat, menganut dalam itu juga. Tapi tetap! Mereka acuhkanku.., atau idola kita? Sekarang dia sendiri yang kellimpungan kan? Dikit dikit’kring.. kring’. JUST FANS.. dia makin lama pasti akan bosan. Jujur, aku kasihan, tapi karena keramahannya itulah sesungguhnya akan menjadi boomerang untuknya. Dia mungkin nggak tahu, kalau dia udah jadi public figure. Dia seharusnya bisa jaga sikap, ramah boleh juga, tapi tak usahlah berlebihan. Padahal dulu udah diingatkan oleh suatu kejadian. Hingga pertemanan aku dengan teman aku yang jadi korbannya. (hehe, keliatan banget aku g ikhlas yaah. Ikhlas.. ikhlas koq). Tapi . Ih, menjengkelkan. Semoga ia tetap jadi kakak aku. Kakak dengan kata kata ‘caiyoo’ nya, kakak dengan pemberian spirit untukku. Walau hanya semu belaka. Amin. Huft.. semoga kata kata aku bukan racun untuk kalian semua..  aku hanya coba share.. Salam persahabatan  Ranti

Rabu, 11 November 2009

AKU BODOH dan KAU DAN GADIS CILIK ITU

0 komentar
AKU BODOH

Ku ingin melihatmu lagi
Walau dalam cahaya bias
Hanya dalam angan belaka

read more

Jumat, 06 November 2009

7 Alasan prediksi nilai penulis pada merah

0 komentar
UTS telah selesai. Namun, UTS kali ini adalah yang paling belakang dilaksanakan diantara SMA SMA lainnya. Sebagai contoh : SMADA telah UTS beberapa minggu yang lalu, SMA di sinjai juga telah UTS. Tak luput juga dengan SMA di Pekan baru.
Namun, tetap, walaupun diselenggarakan terbelakang, nilai penulis sama jeleknya dengan teman teman penulis. Mungkin sebagian penulis ngerti kenapa jadi gitu..

Diantaranya adalah :
Penulis mencoba berjuang sendiri. Tanpa bantuan orang lain, (walaupun di sela sela itu penulis satu dua kali nanya, itupun dengan amat sangat terpaksa).
Penulis mencoba berjuang sendiri. Namun, teman teman yang lain tidak. Itu merupakan suatu kelemahan. Dan pula, penulis masih membantu orang lain yang nanya.
Sudah tahu akan berjuang sendiri. Namun, belaja kurang maksimal (terdesak oleh rasa capek dan ngantuk).
Kurang puas dengan pelayanan pengajaran. Masih kurang sreg. Terlalu cepat dalam mengajar. Jadi, kalau toh penulis bisa pelajaran itu. Butuh perenungan sehari semalam (lebay) agar bisa mantapin pelajaran tersebut.
Mencoba mengecek potensi diri sendiri.
Masih terbayang bayang tentang cita cita yang dulu. (sekarang dah nggak se).
Kerjaanya pingin online, online, dan online selalu!
Tak mendapat spirit dari orang tertentu.
Dilema atas Joe sandy (What?? Maksudnyaaa??!!! Hehe)

Hufh, jadi lega… Trimakasih pink butterfly!! J
Semoga hari esok lebih baik dari sekarang. Caiyoo! Caiyoo mir! (dulu kan dah di semangati kk! Sekarang kau pasti bisa lebih semangat! Caiyooooooo!! Never ever give up!)

Puaslah dengan hasil murnimu, karena kamu mengalahkan nilai moral dari orang orang imitasi



Senin, 02 November 2009

Ku dan kemistikan lagu itu

0 komentar
Musibah datang tanpa permisi’ Itulah pepatah cocok yang telah terjadi, dan sekarang? Trauma itu yang menyusup di jiwa, apakah gerangan yang terjadi ?
Bintang gemintang berkelap kelip di angkasa nan luas, didukung pula dengan malam minggu yang gaduh plus gelap menambah suasana yang indah, yang berada di jalan jalan raya, yang semakin unik dengan berseliwerannya kendaraan.
Di sela sela keunikan itu, terlihat setitik kendaraan dari kejauhan, sebuah sepeda motor melaju berkecepatan sedang dengan menentang sebuah tabung elpiji menuju 1 toko ke toko lainnya, tapi yang mereka inginkan nihil terjadi, tak satupun toko yang menjual elpiji.
“Itu lho Bu, mungkin di pom bensin Trowulan masih ada”, kata salah satu penjual toko kepada mereka.
Tanpa pikir panjang, mereka menuju trowulan. Jalanan tampak lengang di perbatasan mojokerto dan mojoagung. Tetapi tak jarang pula, kendaraan besar, seperti bus atau truk melaju dengan berkecepatan tinggi. Ketika sampai di pom bensin, merekapun mendapatkannya.
Tetapi sungguh malangnya mereka, ketika mereka kembali dan menuju rumah, sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi + ugal ugalan menyerempet sepeda mereka. Alhasil, Pak Hutama terpelanting dari sepedanya, beserta Bu Dewi, dan tabung elpiji menggelinding menatap Bu Dewi, Untungnya, tabung elpiji itu tak meledak. Dan mereka pun pingsan.
Sementara itu, Di rumah mereka, tiga anaknya belum juga tidur. Mira, anak terkecil dalam saudara itu, sibuk dengan komputernya. Aku, yang biasa dengan nama Diana, saudara kedua, bersantai membaca buku dengan bernyanyi nyanyi dengan lagu terbaru yang sedang populer. Sedangkan, Anti, kakak tertua mereka, bersibuk ria dengan makan malam mereka.
“Oh ya dik, ayah dan ibu tadi kemana ?” Tanya Anti kepada kedua adiknya.
“Beliau cari elpiji mbak, entahlah, kak belum pulang juga” kataku sembari melirik jam dinding.
Tak ada sebersit firasat buruk diantara kita, mereka larut dalam kesibukan masing masing.
“Astaghfirullah, kenapa bu?”, tanya Mira ketika Bu Dewi dan Pak Hutama sampai di rumah dengan diantar warga di tempat kejadian.
“Nak, aku dan ayahmu tadi kecelakaan. Anti, tolong buatkan teh panas. Diana, Panggilkan dokter Yanti!” jawab Bu Dewi
Dengan rasa penasaran yang menggelayuti dada, mereka melakukan apa yang diperintahkan Bu Dewi.
“Apa yang sakit Pak?”, tanya Dr. Yanti ketika tiba di rumah Pak Hutama.
“Dada saya mbak, sakit, dan kaki nggak bisa buat berjalan”, jawab beliau.
Dr Yanti memeriksa sebentar, lalu dan menganjurkan berobat ke rumah sakit.
Dengan bantuan tetangga Pak Hutama, mereka menuju Rumah sakit Jombang.
Waktu telah menunjukkan pukul 23.00. Anti mengirim sms ke Bu Dewi
Bu, ayh gmn?
To Anti
Ayh opname di RS, adik2 mu srh tdrtu2p pntux, bri thu pmn n mbah, nnti sruh ksni, tmni ibu!
“Dik, ayo kita tidur, ayah opname di rumah sakit, besok kita kesana!”, kata Anti setelah mengirim pesan Ibunya.
Malam itu adalah malam paling menggelisahkan bagi mereka, hanya cemas dan cemas yang ada di benak mereka, takut terjadi apa apa.
Pagi pagi sekali, saudara kandung itu telah bangun, mereka tak sabar untuk menjenguk ayahanda mereka yang terbaring lemah.
Sekitar pukul 09.00 tepat, mereka telah sampai di Rumah sakit dengan diantar paman mereka.
“Bu, keadaan ayah gimana?”, tanya Mira berbisik
“Paru paru ayah kemasukan darah, kesulitan bernapas”, jawab beliau dengan berbisik pula.
Mendung menggelayuti keluarga Pak Hutama, yang ada hanya cemas, cemas dan takut.
“Ayah, aku pulang dulu ya, cepat sembuh!”, kata Anti sembari berbisik
“Anti, doakan ayah ya, kalau di rumah hati hati, jangan nakal!”, jawab beliau pelan
Dengan berat hati, kami pun pulang.
Diam diam, ku melirik hari yang telah lampau, yeah.... hari kemarin. Ku ingat ingat lagi, bagaimana ketika aku pulang dari sekolah, melakukan aktivitas seperti biasa, lalu bersantai sambil.......
“Astaghfirullah”, Jeritku ketika ku ingat suatu hal, suatu lagu sendu yang kunyanyikan dengan santai, tanpa ada firasat yang mengganjil dalam benakku.
“Tapi apakah mungkin kawan? Lagu itu tak ikut campur urusan kamu!”, bisik peri peri kecil di sekelilingku.
“Bisa aja! Buktinya, sekarang maraknya kasus lagu lagu seperti itu, yang dinyanyikan oleh tokoh yang sama, semua itu bisa terjadi! Bukan namanya dunia, bila tak ada yang mustahil!”, bisik setan kecil menyanggah teman akrabnya.
Ku buang jauh jauh kata kata mereka, ku tak mau berpihak sebelah, hingga aku putuskan,”Ah, itu hanyalah kebetulan, kalau toh ini telah terjadi, ini telah menjadi takdir, semua orang pasti mendapatkan takdir, mungkin menyakitkan ataupun menyenangkan.
Keesokan harinya, Ibu memberi tahu pada kita, bahwa ayah telah membaik, aku bernapas lega, begitu pula dengan kedua saudaraku.
“Tuh kan kawan, Lagu itu tak memberi pengaruh dengan hidupmu, itu fiktif kawan, nonrealistic”, bisik peri kecil.
“Nggak usah dipedulikan dia, pokoknya kamu tuh sangat bersalah! Telah menjadikan keadaan kacau seperti ini, seandainya kau tak menyanyikan lagu itu, hal ini tak kan terjadi, lagu itu penuh misteri!”,bisik setan kecil dan menyingkirkan jauh jauh peri kecil.
Ku tak memperdulikan kata kata mereka, kini ku bahagia, meskipum masih ada the part yang belum selesai.
“Berduyun duyun teman teman keluarga kami menjenguk, mengucapkan bela sungkawa yang sebesar besarnya, Bu Dewi pun menyuguhkan dengan cerita bagaimana kecelakaan terjadi, walaupun begitu, beliau ingin menghilangkan traumanya.
Rasa bebanku berangsur angsur menghilang, aku mulai mengikuti pelajaran dengan baik, tetapi.... bunyi berdering dari hp ku, sebuah sms masuk dri pamanku
Diana, ayh km d operasi hri ni jga, tpi jgn bri thu ka2 km, dy sdng Ulngn semester, nnti g bs konsen!
Aku tak kuasa menahan tangisku, ku coba untuk memeriksa sms itu lagi, tapi nihil perubahan, pelan pelan aku bercerita kepada temanku, dan ia menyarankan untuk mendoakannya. Satu yang ku risaukan, PASTI INI OPERASI BESAR, KU TAK INGIN KEHILANGANNYA.
Dengan perasaan cemas dan hati yang berkecamuk, aku cepat cepat pulang, lalu memberi tahu adikku.
Dengan cepat, kami berangkat menuju rumah sakit.
Segera ku seka air mata ini, ku pelan pelan bertanya kepada ibuku yang memiliki hati tak karuan,”Bu, ayah gimana?”.
“Ayah kamu di ruang ICU Operasi, cobalah melihat sebentar, ada banyak kabel melilinginya”,jawabnya dengan hati yang berkalut.
Ku cepatkan langkahku menuju ruang ICU, ku intip ayah dari luar”Oh my God”, aku nggak nyangka hingga seperti ini, ini benar benar nyata, ku kira ini hanya mimpi! Ku coba untuk menahan air mata dan ku kembali dari tempat pengintipanku.
“Tupai melompat setinggi tingginya pasti jatuh jua” itulah yang terjadi, Kakak ku, Anti telah mengetahui tentang operasi ayah, dengan diantar salah satu temannya ia tiba di rumah sakit.
Ku nggak tahan melihat terharuan ini, cepat cepat ku ajak adikku pulang dan membiarkan kakakku menanyakan keadaan ayahku.
“Tuh kan kawan, okamu dibilangin nggak percaya, lagu itu sangat berpengaruh, kamu masa’ bodoh dengan semua ini”, bisik setan kecil kepadaku.
“Oke Na, kamu nggak salah kok, itu hanya kebetulan, percayalah padaku, kalau toh kamu percaya padanya, ingatlah pada Tuhan Mu, Allah!”, bisik peri kecil dengan mantap.
“Udahlah, kalian tak usah ikut campur, ini masalahku, buatku lagu itu memang berpengaruh, tapi kecil, karena ini sudah menjadi takdirku, Tuhan telah memberikan yang terbaik untukku”,jeritku dalam hati.
1 bulan sudah, ayahku opname di rumah sakit, hingga beliau dapat diperbolehkan pulang.
Keluarga kami kembali seperti semula, meskipun masih ada seberkas trauma yang menempel dalam ingatan kami. Walaupun ku masih ragu dengan ke-mistik-an lagu itu, sudahlah tak usah `diperdebatkan, karena itu akan kupendam sedalam dalamnya, dan aku tanami dengan pohon emas nan kemilau.

My activities

style='overflow:auto; height:200px'>