Minggu, 22 November 2015

Aku Tidak Mampu :(

1 komentar
*sigh* Dari judul post ini saja sudah menunjukkan pesimis.
Bukankah seharusnya aku tetap optimis, bagaimanapun itu caranya selama masih dalam koridor-Nya
Aku tak tahu. Aku tak tahu harus berbuat apa.

Waktuku telah berkurang empat tahun di sini, ditempa dengan ilmu statistik, agama, organisasi, budaya, pergaulan. Lalu benarkah aku benar-benar menyerap hal itu?
Dikala optimis itu masih terpatri saat itu, semangat masih terngiang-ngiang, meletakkan tujuan utama pada balok empat ini, namun, apa yang sudah kukerjakan? Hei! Apa yang sudah kamu dapat selama ini? Wake up, Mir!

Ya Allah, hal ini belum selesai, ada hal satu lagi yang selama ini mengusikku.
Aku tidak mampu untuk mengingatkan mereka, bahkan sekedar untuk membuat mereka berdua nyaman denganku.
Aku ingin, ingin sekali, kalian sesuai dengan prinsip kalian.
Aku tahu, aku pernah merasakan seperti yang kalian rasakan.
Mendapatkan supportnya itu luar biasa semangatnya, selalu diingatkan, sebagai orang pertama yang hadir di saat gundah, berbagi kebahagiaan, keceriaan, kesedihan.
Tapi tidakkah kita memahami, aku tahu pasti kalian juga tahu tentang hal itu...
Tidak bisakah kita menunggu barang sejenak satu atau dua tahun ke depan sepertiku yang menunggu seseorang itu?
Tidak bisakah kita bersabar sejenak dan bersandar pada sahabat sejenis kelamin kita dan hanya mengadu pada-Nya?
Tidak bisakah kita memahami lebih dalam lagi kita akan mengalami hal ini kelak, kelak ketika sudah halal?

Di malam yang telah sunyi ini, tanpa terasa tanganku membuka salah satu coretanmu, adikku, dan seringkali aku memutar otak berkali-kali, bagaimana caranya untuk membuat kalian nyaman padaku.
dua orang yang sudah kuanggap keluargaku di suatu tempat di sekolah ini, bagaimana cara terbaikku untuk mengingatkan mereka untuk menunggu sebentar lagi?

aku tidak tahu dan aku hanya bisa mendoakan mereka.

Orang macam apa aku ini >,<

Maafkan aku adikku dan temanku.
Maaf...
Aku tidak mampu untuk mengingatkan kalian

Minggu, 08 Februari 2015

Sepatah Kata Ini Untuk Penegasanku

3 komentar

Sudah lama rasanya, mendengarkan candamu, melangkah bersamamu, bahkan hanya sekedar melihat semangatmu dalam menuntut ilmu. Sangat lama kenangan itu tertinggal jauh di sana, tertimpa dengan kegiatan yang mendera tiada terasa, terhempas dengan waktu yang berjalan dengan cepat, melesat.
Saat itu tanpa kusengaja melihat beranda halaman salah satu temanmu, mengunggah foto sekelompok organisasi non formal, terlihat canda tawa mereka, keakraban sangat jelas terjalin bersama, kenyamanan, keamanan, kegembiraan tidak dapat dipungkiri lagi. Ah, yang tidak terlewatkan, ada kamu.
Aku di sini bukan mengulang untuk menyesali hal-hal yang telah kulakukan saat dulu, aku di sini juga bukan untuk menyesali segala perkataan entah itu kasar, tercela, menjijikkan, memuakkan, menyebalkan. Aku di sini tersenyum, tersenyum sedang meniti jalan menuju-Nya, melangkah untuk menjauh hanya untuk sementara.
Aku tersenyum masih ada lintasan tawa itu, sejenak aku merasa aku adalah orang yang sangat sangat memuakkan, memutuskan tali silaturahmi itu, menjejallkan perasaan-perasaan aneh itu kemudian menutup rapat dan kusimpan dalam aliran darahku, hingga mampat, kukunci, dan tak bisa bergerak. Apakah aku seburuk itu? Sudah berapa kali kelenjar air mata ini bekerja untuk hal ini? Tidak terhitung lagi, Allah. Aku tidak tahu lagi bagaimana aku harus berusaha menjauhi hal ini untuk mendapatkan ridho-Mu. Aku gak tahu karena aku hanya berusaha dan terus berusaha mengenyahkannya.
Ya, iya tersenyum, seperti biasanya. Terima kasih, Allah. Setidaknya aku tidak menyakitinya saat dia menampakkannya. Menjalani aktivitas dengan orang lain, memiliki sekelompok-sekelompok orang yang luar biasa, menikmati hidupnya. Aku lega.
Naif rasanya mengatakan bahwa ini cerpen, hampir kubuat narasi ini, namun aku tahu, it will sound silly.
Entah berapa kali perkataan itu, karena entah mengapa kuyakini cepat atau lambat dia akan membaca ini.
*Ngode*, Well gak kok. Hanya terkadang aku hanya berfikir, jika kita bisa memperjuangkan mengapa kita perlu melepaskannya? Ataukah mungkin ketika kita tersakiti dengan satu hal apakah untuk selamanya kita harus menjauh dari hal itu? *Mulai ngaco*
Ada beberapa patah kata yang ingin kusampaikan, sedikit saja..

"Izinkan aku untuk menjalani ini, yang sedang melangkah untuk menuju Ridho-Nya, menikmati hari-hari dengan dikelilingi orang-orang luar biasa yang tiada luput mengingat Allah, berusaha yang terbaik pun karena Allah. Izinkan kita untuk menjauh sejauh-jauhnya, menetralisir kesalahan-kesalahan itu hingga terbuang menjadi buih-buih di lautan, biar ia terhempas jauh ke suatu pulau tak terjamah, hingga ketika waktu itu tiba, biar Allah yang mengaturnya. Karena usaha kita hanya untuk memantaskan diri, mengupgrade pada level tertinggi pada jalan-Nya. Semoga.. Ya,semoga saja. Semoga, aku istiqomah di jalan-Nya"

Selasa, 06 Januari 2015

Analisis Masalahmu dengan PRANCIS

1 komentar
bismillah...
Semoga ini bermanfaat...
Gak, ini bukan tentang curhat lagi kok. Ini masalah bukan gak ngerti lagi.
Ok salah, ini bukan masalah. Melainkan sharing ...
Ada salah satu mata kuliah menarik di semester ini? coba tebak..
Survei contoh? Database? Pemrograman web?  Sayangnya itu biasa saja, gak ada feel yang masuk. Hanya saja beliau yang mengajar luar biasa baik sekali dalam menghadapi kami. Cuman...
Ada yang lebih menarik

*jreng jreng*
PRANCIS/APSI
Analisis Perancangan Sistem Informasi.
Dari singkatannya aja udah keren. Apalagi materinya.
Sebenarnya bukan karena materinya. Kurang lebih materi yang disajikan hampir sama dengan database, karena banyak sekali, hampir sama kayak Teknologi web, karena berslide bahasa inggris. Hampir sama kayak survei contoh karena mengenai teori, teori, teori. Iya, itu juga ada prakteknya sih.
Cuman entah kenapa. Percaya gak sih.
"Ketika kita sudah memasukkan hati kita pada suatu hal. Maka semua akan terasa mudah"
Sepertinya begitulah.
Pernah azizah, sahabatku berkata,"Cieee.. Sibuk" *sebenarnya menyibukkan diri pada hal yang lebih bermanfaa sih*, lalu aku hampir aja ngeluh, dia berkata,"Yang penting dibuat enjoy aja, pasti mudah".
Nah, lho.. gak nyambung, kan...
Dibuat nyambung ajalah...
Jadi gini. Semenjak awal pertama bertemu dosen tersebut, feel untuk mendengarkan beliau mengajar terasa banget, menjelaskan rinci demi rinci materi yang ada, diselipkan dengan kondisi luar yang masih fresh, diberi contoh yang nyata, masuk akal, menceritakan hal-hal yang bermanfaat dan menambah bayangan di masa depan. Nah, dari situlah, aku belajar menyukai mata kuliah ini, lalu menikmati setiap detik yang beliau ajarkan, *meskipun kadang gak nyambung sih*, Khusus di mata kuliah ini, kantuk jarang datang, meskipun menguap pun pernah.

*Nah lho, curhat aja kan dari tadi?
Biar gak terkesan curhat. Mungkin akan kushare sedikit apa yang kudapat tadi siang.
Jadi gini nih bro. Sebelum melakukan skripsi *ibunya bilang gitu seingatku*, perlu beberapa hal yang dirancang dalam membuat sistem informasi.
Yakni Proses Modelling.
Nah, *sebentar, berasa kuliah ya. gimana caranya lebih atraktif nih*
Intinya sih, gini. Sebelum mebangun sesuatu, kita harus menganalisis masalah tersebut kan? lalu mencari solusi, right?
Nah, gimana caranya supaya lebih mudah.
Kita Fact Finding dulu yaaa....
Yang pertama. Buat WORKFLOW.
Nah, ini buat? Buat ngertiin alur kerja nya itu bagaiman, dari tahapan tahapan tersebut akan dilihat efisienkah tahapan tersebut?Apakah bisa dipermudah tahapan tersebut dengan membuat sistem yang akan meminimalisir tahapan yang ada?

*gambar menyusul, rencanaya sih mau masukin tugas nanti mengenai SIM*

Nah, kalo udah, buat BISNIS PROSES. Itu hampir sama kayak workflow sih, cuman itu mau membuat aliran proses beserta stakeholder yang terlibat. Dari bisnis proses akan jeas, prosesnya ngapain aja, inputnya apa, outputnya apa.

Nah, kalo udah, bikin DFD atau Usecase. Apasih itu.
Data Flow Diagram atau usecase.
Kayaknya bakal lebih enak ada penjelasan dari gambar ya..
Gini nih...



Nah, setelah itu kita nyari permasalahannya apa aja.
Kalo orang Sistem Informasi biasa menggunakan Fish Bone/ Isikawa diagram.
Nah, di tempat itula, kita akan memahami dari permasalahan yang utama hingga merujuk ke permasalahan yang kecil-kecil banget.
Hal ini gak hanya untuk Sistem Informasi lho yang berhubungan dengan IT.
Semua permasalahan ketika kamu merasa hidupmu rumit, bingung, galau, tak tentu arah, lupa membaca al-Quran *nah lho*, berarti kamu harus mencari tahu kenapa hal itu terjadi kan? Nah, bisa kamu gunakan diagram ini sehingga lebih sistematis dan kelihatan ujungnya.

Nah, udah tahu semua permasalahan kan, maka dibuatlah problem statement.


Setelah di analisis. Maka kita berada di Solusi dari permasalahan.
Yakni kita membuat workflow dulu,
*Sama, mir?*
Beda!!!
Workflow di sini sudah menggunakan sistem informasi, lho. Sehingga segala alur akan lebih mudah dan lebih cepat dalam pelaksanaanya.
Bisnis proses pun demikian, usecase pun juga.
Nah, setelah itu ada candidate system Matriks. Yakni berisi candidate solusi solusi yang dapat kita kerjakan
Dan aakan diketemukan candidate solution yang lebih mudah dan bisa kita kerjakan
Kemudian tiba pada perancangan input output

Banyak kan? Gak kok. InsyaAllah akan lebih mudah dalam menjalan hidup.
Sebenarnya guys, gini. Sistem itu untuk apa sih? Untuk mempermudah manusia dalam bekerja, betul?
Jadi, untuk menghasilkan hal yang efektif dan efisien akan lebih enak menggunakan sistem. Sistem yang bagaimana dulu? Yang terpenting, sehebat apapun kita, secanggil apapun teknologi. Ada hal yang gak akan tergantikan. RASA. EMOSI. Hal-hal psikologis tersebut hanya akan kita dapatkan ketika menggunakan manual. Bertemu langsung untuk memahami karakteristik lawan bicara, menghasilkan hasil yang terbagus karena memberikan hati kita pada suatu pekerjaan.
Apakah sistem merasakan hal itu?
Sekali lagi balik pada  kodrat manusia, makhluk sosial.
Semoga kita tidak terlalu terlena dengan teknologi yang semakin maju ini. Amiin

Jumat, 02 Januari 2015

Peraturan Maskapai Penerbangan?

1 komentar
Home sweet home. Telah tiba di rumah kedua, dengan disambut malam gemintang yang sunyi, di atas "masih" padatnya jalanan kota Jakarta.
Aku tersenyum sendiri menikmati suasana yang ada. Bertemu teman-teman yang siap mengajak untuk mengarungi kehidupan, bertemu dengan jalanan yang setiap saat menyemangatiku, bertemu ia, *nah lho, siapa, ketahuan kan?* #gak usah negatif gitulah# *terus siapa?* Ok, gak penting. Percakaapan dua orang yang gak jelas.

By the way, gak ada yang kusesali telah sampai di Jakarta dengan selamat *yaiyalah, kan selamat*. Bukan, bukan karena itu, karena biasanya ketika balik kesini, bayangan kedua orang tua dan keluarga masih bergelayut di pikiran, rasa berat untuk meninggalkan rumah menahan langkah kakiku. *splash, alay*.
Intinya, aku seneng, seneeeeeng banget dengan liburan kali ini. Cukup puas.

Materi utama pada postingan ini bukan tentang liburan, hayooo, penasaran liburanku yaa? *GR*. 
Semoga gak ngomongin orang di sini ya..
Aku sedang kesal dengan salah seseorang. Semoga gak kusebutkan namanya di sini *emang tahu namanya?*
Ada yang belum tahu mengenai musibah yang dialami Indonesia akhir-akhir ini? bukan.. bukan yang itu.. yang hot news sekali itu lho.. Bukan!!! itu sudah lama dihiraukan orang Indonesia. Yang ini lho..
Keywordnya Air Asia.

Semenjak peristiwa itu, hipoetesisku menyatakan orang akan lebih hati-hati dalam bepergian dengan menggunakan pesawat. Entah mereka akan menghindarinya, memilih kendaraan alternatif lain, atau  mungkin menaati peraturan yang senantiasa dibuat oleh maskapai penerbangan.
Iya, peraturan.
Tiba-tiba merasa jengkel dengan perkataan orang bahwa peraturan itu dibuat untuk dilanggar. *gak jelas nih mulai, terangin, mir biar jelas*.
Ok, tepatnya tadi malam dengan menggunakan salah satu maskapai penerbangan dengan warna khas hijau, dengan seat 3-3, dari Surabaya menuju Jakarta. Sendirian. Dengan membawa koper dan dua tas berbeda ukuran.
Aku duduk sambil menyunggingkan senyum karena hari sibukku akan datang *read : kuliah*, dua seat disebelahku masih kosong. Namun seat di berlawanan arah telah penuh dengan rombongan satu keluarga. Kubaca tabloid maskapai tersebut untuk menghindari kantuk yang menjalar. Sambil membuka buku kecil yang senantiasa kubawa dan jarang kubaca *ups*. Beberapa menit kemudian sebelum pesawat berangkat, seseorang tiba dan duduk di dekat jendela. Beberapa detik kemudian, seseorang lagi tiba. Kupersilakan untuk mengambil tempat duduk. Perawakannya tinggi, terlihat gugup, bingung. Sambil membawa kotak permen dan HP.
Sebelum pesawat berangkat, dia bermain alat elektroniknya,  seorang petugas berkata,"tolong HPnya dinonaktfikan". Dia hanya menghitamkan layar, ketika berlalu, dia menyalakan lagi".
Aku geram, sembari berfikir,"Jika ada frekuensi yang datangnya sama dengan mesin, maka bisa jadi mematikan turbin mesin pesawat".
Aku panik, berteriak, kesal *oke, alay mode on. Gak sampai segitunya. Cuman gerakkan kaki aja*
"Mas, tolong dimatikan HPnya".
"Sudah", katanya padaku dengan menunjukkan HP yang dibawa.
Aku terdiam, meskipun masih curiga, difikiran masih terngiang ngiang mesin turbin mati, lalu tubuhku melayang, hilang, rasa senang pun sirna.
Aku beristighfar berkali-kali. Aku harus positif thinking, semoga apa yang dikatakannya benar.
Kemudian dia menyalakan salah satu elektroniknya lagi. Mengambil headtset, memasang di telinganya, dan menyalakan musiknya.
Aku tercengang. Pesawat baru aja take off. Roda masih nempel di tanah, woy!
Aku geram, beristighfar berkali kali. Lalu takut-takut. Jika hal yang ada di fikiran ini terjadi, aku hanya bisa menyesal. Bisa jadi aku termasuk orang yang membunuh penumpang karena membiarkan keburukan yang tengah terjadi. Paling tidak aku harus memperingatkan dia. Entah bagaimana itu hasilnya *cie, berdakwah cuy di tengah pesawat*
"Mas, tolong dimatikan sebentar saja".
"Ini bukan HP, ini lho gadget".
Aku ber-ooh ria. Speechless. Kembali pada posisiku.
Oh, meeeen! Astaghfirullahaladhim. Ini orang pinter banget apa ya?
Ini bukan HP, tapi gadget? Bahasa gaul ada artinya bukan sih?
HP itu salah satunya adalah gadget!
Orang melek IT tapi gak pernah baca berita elektronik kah?
*Nih kan, ngomongin orang*


 Tiba tiba perasaan itu bergelayut dengan bacaan bahwa ada pesawat jatuh lantaran ada yang tidak mematikan barang elektroniknya yang bukan HP. iya, BUKAN HP!
Aku sudah speechless, berusaha menenangkan hati dengan istighfar, murajaah hafalan.

Belum selesai keherananku. Ketika peawat telah landing. Aku bergumam kembali. Pesawat belum benar benar berhenti, dia menyalakan HPnya, beberapa orang pun juga. Bukankah peraturan itu sudah jelas-jelas terdengar,"Tolong menyalakan barang elektronik di luar pesawat". Apa aku yang terlalu polos menaati peraturan itu?
Jelas peraturan itu dibuat untuk kita, karena kita, dari kita. Kenapa sih gak dituruti aja? Jarak waktu nyalain HP di pesawat dan di ruang pesawat hanya hitungan menit, coy! Sabar dikit bisa gak sih?!

Gini rupa orang Indonesia?
Gini mau gak ada kecelakaan?
Gini mau disiplin?
Gini mau masuk surga?

Bukannya sok suci. Cuman aku lebih baik jadi orang polos aja.
Aku gak ngerti. bener bener gak ngerti. Serius gak ngerti. Ada apa dengan hal ini?


Kamis, 01 Januari 2015

Gak Istimewa Hanya Pada Tahun Baru

1 komentar



Bismillahhirrahmanirrahim :)
Mungkin blogger lain akan mengatakan,"Selamat tahun baru","Happy new year".
Atau, entah apa itu.
Tapi aku gak, gak ada yang istimewa pada hanya malam tahun baru itu, tidak ada yang istimewa pada hanya tanggal 1 itu. Bagiku, setiap waktu liburan ini terasa istimewa ketika bersama keluarga.

Menikmati sisa waktu yang ada dan menyempatkan diri untuk bersama dengan mereka.
*NtahKenapaSpeechlessSekarang*

Liburan yang dipaksain ini (lantaran setelah UTS yang biasanya ketika sekolah, akan libur beberapa hari. Jika di kampus ini tidak ada liburan, lantas dengan upaya yang hebat, teman-teman berhasil melobby dosen-dosen kami untuk memaksa libur) kumanfaatkan sebaik-baiknya untuk bersama mereka.
Membagi waktu sebisa mungkin (meskipun juga masih sering terpotong dengan tidur yang keblabasa *eh*, ngelamun gak jelas *eh*).
Gak jelas kan postingan malam ini?
Lain kali, semoga bisa kubagi betapa istimewanya hari-hari dengan mereka. Berbagi cerita, tersenyum bersama, menikmati keluh kesah, sedih.
Semoga.
Semoga...

Sabtu, 27 Desember 2014

Terima Kasih Terima Kasih Terima Kasih Terima Kasih Terima Tasih. Ya, Tiada Henti.

1 komentar
Bismillahirrahmanirrahim.
Udah lama, lama, laamaaa banget, punya niatan yang baik ini, ah.. terlalu banyak basa basi..
Akhirnya niat yang tinggi itu terealisasi di sini, sekarang, ketika tugas lain masih terbengkalai, ketika harapan lain muncul dan harapan lama terabaikan, ketika rasa itu semakin menjauh...

Masih dalam lingkaran ketidaktahuan dalam memahami hidup, terseok-seok menjadi orang yang bermanfaat dan bijak. Menjadi orang yang berguna untuk setiap orang, memudahkan setiap orang yang sama-sama sedang memahami perjalanan hidup yang tengah dilalui bersama-sama.

Aku duduk di sini, ditemani dengan sebongkah laptop yang sudah bertahun-tahun, ditemani kedua orang-tua yang tidak pernah mengeluh memberikan segalanya untuk anak-anak tercintanya, yang sedang berfikir aku, adikku, dan ah.. mbakku. Yang setiap waktu sedang ditekan dengan masa hidup remajanya yang diujung tanduk, menanti ucapan sakral dari lawan jenis, melegakan orang tua untuk berfikir lebih mudah. Hingga membuaikanku akan depan yang masih lama, yang sedang memikirkan harapan lain, rasa yang menjauh.

Mari kita tinggalkan sejenak.
Aku di sini untuk membucahkan perasaan dari segala perasaan.
Perasaan yang menggelisahkan, menyedihkan hingga berhujung dengan rasa syukur, beruntung dan semangat tiada henti. Note! Hilangkan rasa satu hal yang semakin menjauh itu.

Sampai sekarang aku masih terheran-heran dengan kondisi sekarang. Memiliki sahabat yang selalu memberi dukungan ketika kubutuhkan, memiliki keluarga- keluarga yang teduh, aman, nyaman, saling peduli.
Seringkali aku terharu hingga perasaan itu membuncah. Terima kasih, terima kasih ya Allah telah Engkau berikan nikmat yang Masya Allah ini untukku. Memiliki keluarga kandung, saudara-saudari kandung nan jauh tempatnya, memiliki keluarga Adzkiya, memiliki lingkaran liqo yang tiada putusnya memberikan semangat ruh, memiliki keluarga muslimah yang meningkatkan potensi diri untuk selalu mengingat-Mu, memiliki keluarga komnet yang kece, memiliki keluarga Komputasi Statistik yang peduli dalam diamnya, memiliki lingkaran tahsin yang memompaku untuk tidak mengabaikan tujuan utamaku lahir di dunia ini, memiliki keluarga Pengolahan Data yang saling bergandeng tangan, memiliki Engkau yang selalu memberikan kejutan yang indah, manis sekali.

Ah, semoga bukan hanya kata-kata yang terlontar ini dengan percuma, namun juga terpatri dalam hati, dilakukan dengan hal yang bermanfat.

Setelah diguncang dengan amanah yang subhanallah beberapa bulan yang lalu, yang telah diingatkan dengan Allah akan amanah lain, yakni tubuh memiliki hak juga, sekarang Allah semakin mengujiku dengan hal yang sama. Hingga aku bisa melewati ini dengan senyuman dan semakin bijak.

Teringat dengan kakak mentorku berkata,"Allah tidak akan berhenti menguji umatnya dengan ujian yang sama hingga dia bisa lolos dengan ujian tersebut".

Mungkin Allah masih menilaiku, aku terlalu susah membagi waktu dan fikiran.

Memiliki amanah menjadi dua sekretaris serta mengajar tahsin, dan amanah lain terasa berat memang.
Tetapi semua itu terasa mudah dan menyenangkan karena Allah memang memberikan yang terbaik untuk umatnya.
Betapa tidak?
Amanah yang pertama adalah sekretaris suatu bidang UKM. Sungguh, pernah ada perasaan untuk melepas jabatan itu, karena takut amanah menjaga tubuh ini terlalaikan, tetapi tiba tiba teringat bahwa"Sebaik baiknya manusia adalah manusia yang sangat bermanfaat untuk orang lain". Heiiiii, lalu bagaimana dengan ini?
You know the most of All ! (ok, aku ngerti structure nya salah, jadi kangen Kakakku yang jauh disana). Yang paing ngerti padahal gak ngerti apa-apa, apa salahnya sih. Bukankah kamu udah cinta sama tuh bidang? Bener bener pingin majuin dia supaya bener bener ada. Dikasih amanah gini aja masak gak mau?
Alhamdulillah, ternyata amanah itu tidak seberat yang kufikirkan, karena memiliki partner yang sangat-sangat memahami kondisi ini, mengemban amanah ini bersama-sama, bahkan rela bertanggungjwab hampir semua tugasnya. Rasa syukur ini tiada henti mengalir kepadaMu, ya Rabb..

Amanah yang kedua adalah sekretaris suatu seksi di PKL yang kece.
Kece, cuy.. karena hanya dilaksanakan sekali dalam hidup.
Sekali lagi, karena takut melalaikan amanah untuk menjaga tubuh. Aku bimbang, terdiam beribu bahasa.
Alhamdulillah, karena mendapat dukungan dari keluarga-keluargaku di atas, mendapatkan hak dari para-para tetua. Akan kuemban amanah ini.
Namun, eh, kenapa namun?
Harusnya bilangnya Makasih ya Allah, karena amanah ini terasa mudah, nikmat sekali karena memiliki sekali lagi partner partner yang masyaAllah benar-benar ikhlas dan ridho menjalankan tugasnya dengan baik.
Semangat mereka yang tiada henti mengalir, memompaku untuk hidup dan semangat yang membara.

Kece, sumpah! Semua orang di sana kece semua! Mengagumi setiap orang yang memiliki semangat walaupun sekecil apapun itu.

Di sela sela kesibukan dunia ini. Ada amanah yang indah, yang membuatku untuk senantiasa mengingatMu.
Amanah mengajar tahsin.
Jujur, apalah aku ini? menyerap ilmu gak 100%, masih memiliki banyak salah, baca pun masih gak sempurna.

Tapi, sebaik baiknya manusia adalah belajar alQuran dan mengajarkannya.
Aku mau jadi orang yang baik lhooo....
Jadi, begitulah, here I am!
Mencoba memberikan apa yang bisa kuberi untuk adik-adikku. Menyisipkan rasa cinta yang ada untuk mereka yang sedang semangat mencari ilmu. Hebatnya, ketika kampus kurang kondisif, semangat itu masih terpatri di adik-adik tercinta ini untuk mencari ilmu agama.


Ya Allah, rasa syukur ini sering membuatku tersenyum dalam memahami hidup. Terima kasih ya Allah.
Semoga eksistensi mereka, konsistensiku selalu istiqomah untuk menuju jalanMu..
Semoga rasa terima kasihku, lewat secarik tulisan ini tersampaikan pada mereka, orang-orang sekitarku yang sangat berarti dalam sekecil apapun perbuatan mereka untukku.
Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.

Senin, 19 Mei 2014

Ulang Tahun? Ups..

1 komentar
Ada yang kontroversial lagi menurutku selama ini.
Selain aliran dan politik, yakni budaya.


Seorang nasionalisme berkata,"Jangan pernah meninggalkan budaya di Indonesia yang beraneka ragam".
Seorang ahli agama pada aliran tertentu berkata,"Jangan mencampur adukkan budaya islam dengan budaya tradisional lain", atau bahkan ada yang pernah mengatakan,"Bid'ah".
Seorang liberalis berkata,"Di zaman modernisasi ini, sudah sepantasnya kita mengikuti budaya barat, biar gaol".

Terlepas dari semua kebenaran perkataan tersebut. Aku hanya mengambil sedikit fenomena yang sering aku baca, dengar, dan sedikit kupahami (karena sedang dalam proses memahami arti kehidupan) di sekitar sini.

Budaya yang kumaksudkan pada pembahasan kali ini berupa budaya dari ujung barat, yang sudah seolah mendaging di Indonesia, yang baru-baru ini telah aku lalui, yakni :

:Ulang Tahun:



Menurut salah satu web di internet :Sejarah perayaan ulang tahun dapat ditelusuri kembali sebelum munculnya Kristen. Dalam budaya pagan diyakini roh-roh jahat mengunjungi orang – orang pada hari ulang tahun mereka. Untuk melindungi orang yang memiliki ulang tahun dari pengaruh jahat, orang-orang diundang untuk mengelilingi dia dan berpesta. Membuat banyak suara untuk menakut-nakuti roh-roh jahat. Pada waktu itu tidak ada tradisi membawa hadiah dan tamu menghadiri pesta ulang tahun akan membawa keinginan yang baik bagi orang ulang tahun. Namun, jika tamu membawa hadiah itu dianggap sebagai pertanda baik bagi orang kehormatan. Kemudian, bunga menjadi cukup populer sebagai hadiah Ulang Tahun. 

Mengerikan, bukan?

Ya, ngeri. Tapi apa sih yang bisa kita bisa lakukan dengan banyak orang di sekitar kita yang sedang berlomba lomba mencapai modernisasi zaman, mengikuti mindset yang seolah-olah hal yang tidak haq merupakan wajar.

Entah mengapa juga, hari demi hari mindsetku semakin meronta untuk mendapatkan berbagai wacana dari media, entah itu tentang pro dan kontra. Untuk itulah, aku menulis beberapa tulisan di sini, berharap ada yang mengingatkan jika ternyata yang aku dapatkan selama ini salah.

Selama ini, ulang tahun adalah hal yang sering kita dengar.
Berbagai fasilitas dengan mudah mengingatkan kita pada momen tersebut.
Lihat saja dengan facebook, dengan hanya satu click saja, kita bisa mengetahui siapa saja yang ulang tahun hari ini. Lihat saja HP yang memiliki memo untuk mengingatkan setiap moment yang dianggap penting oleh pemilik HP tersebut.

Ah, sekali lagi, hendak mengingatkan diri lagi, kalau mereka sedang mengubah mindset kita, sedikit demi sedikit, melakukan perang pemikiran. Ah, atau aku terlalu sibuk dengan kejahatan para musuh islam, sehingga seakan-akan sering mengaitkan hal ini?!

Aku nggak tahu, aku sedang dalam proses memahami.
Aku sedang memasukkan segala informasi yang ada di sekitar, memilah mana yang baik, tidak kaku, dan benar benar tidak salah.

Sehingga itu dia, ketika hasil belum tercapai, dan waktu masih berjalan terasa cepat.
Aku memilih untuk meningkatkan kasih sayang, meningkatkan keakraban dengan keluarga, teman-teman, sahabat, orang sekitar.
Aku mimilih untuk memanfaatkan moment yang mereka buat, tanpa sangat fanatik dengan moment itu untuk lebih memahami orang-orang sekitar.
Lihat saja pada 14 Mei kemarin, orang-orang yang jarang berkomunikasi, jarang bertukar kabar, hanya bisa mengetahui dari kejauhan tentang keadaan umumnya.
Pada saat itu, meningkatkan komunikasinya. Bertukar kabar, bercanda, lebih mengenali apa yang ia kerjakan.

Oke, mungkin akan ada yang membantah, bahwa meningkatkan komunikasi bukan hanya pada hari itu. Memang benar, komunikasi bisa ditingkatkan pada setiap saat, pada tanpa moment yang nyata, moment yang tidak seharusnya kita adakan.
Apa salahnya kan kita memanfaatkan moment tersebut dengan hal yang positif?

Itu bagiku, Is it wrong?

Wallahu 'Alam.

Terimakasih semua atas ucapannya, terimakasih keluargaku yang tiada hentinya mendoakan, memberikan materi dan non materi yang berlimpah.
Aku terharu :D


Minggu, 11 Mei 2014

Aku Rindu...

1 komentar
Sebenarnya sedikit useless hanya dengan menulis ini, tanpa mengatakan langsung kepada mereka. Berpura-pura cuek, tidak memperhatikan. Namun setiap waktu sering memantau keadaa mereka.
Seakan-akan menjadi seorang phunsuk wangdu yang senantiasa membeli album foto ataupun website kedua sahabatnya.
Seakan-akan menjadi seorang mata-mata yang diutus Rasulullah, melihat dari kejauhan musuh.
Seakan-akan menjadi seorang kekasih yang mematai mantan.
#ups...

Gak..gak, semua tadi ngaco.
Bukan itu yang aku maksud.

Hari ini merupakan hari terbaik, akhir-akhir ini ketika melihat, mendengar, mengetahui orang-orang dekat sedang berbahagia, aku juga bahagia melihatnya.

Seperti ketika 19 April dulu, Apa sih yang bisa aku bagi? Hanya sebuah kado untuk mereka, menyelundup dalam perayaan kecil serta bertukar kabar dengan waktu yang lama.
Karena itu yang aku bisa lakukan.

Hari ini pula, ketika mengetahui seorang yang telah menemani selama 2 tahun, sering bersama, menjadi salah satu alasan yang membuat aku bersyukur telah berada di sekolahku yang dulu. (Kebanyakan gerund-nya, mir -.-) Intinya sih, it's her graduation's day :D
Aku rindu, rindu bercanda dengannya, dengan thumb war nya, dengan upaya nya untuk mendekatiku, dengan semangatnya menjadi relawan di negeri orang, dengan kegigihannya menjadi seseorang yang baik, dengan keteguhannya memegang beberapa prinsip, dengan lesung pipitnya.
Ah, aku tahu, aku rindu.

Siapa yang nggak tahu kalau kita nggak bisa mengembalikan waktu?
Juga siapa yang nggak tahu kalau pertemuan itu pasti akan berujung dengan perpisahan
Serta siapa yang nggak tahu..


Ah, banyak perkataan, ah.



Pada saat ini pula, seorang sahabat, yang telah mengawali pengalaman yang tak terlupakan, sedang mendapati umurnya telah berbeda dengan tanggal sebelumnya. Bukan,
Bukan pula bermaksud acuh tak acuh,
Setidaknya, buat apa kita mengumbar ucapan itu?
Meskipun hari seperti ini bukanlah hari pada Islam.
Entah ini liberal atau tidah (Tsaaaah, ribet banget pemikiranku sekarang)
Intinya sihSahabatku udah gak kecil lagi :D)
Ak rindu, rindu perkataan yang sering membuat kita ketawa nggak jelas, dengan perjuanganya menempuh waktu yang sedikit untuk sekolah,

Sekarang aku baru tahu bahwa perasaan itu bukanlah sekedar perkataan.
Sedangkan perkataan bukanlah mengekspresikan segala perasaan.
Setidaknya perkataan ini sedikit memberitahukan bahwa ini perasaanku sekarang.


Happy Night ^^ . One day, i believe i will meet you all at one place and talk randomly...


My activities

style='overflow:auto; height:200px'>